Di Antara Debu dan Cahaya

Manusia berdiri di antara debu dan cahaya,

kakinya menjejak bumi yang renta,

matanya menatap langit tanpa batas,

hatinya bertanya:

siapakah aku di hadapan semesta?


Alam berbicara tanpa suara,

daun-daun berzikir dalam hijau,

angin berdoa dalam hembus lembut,

gunung bersujud dalam diam panjang,

mengajarkan manusia arti kepatuhan.


Namun manusia sering lupa,

mengaku berakal tapi abai,

merasa berkuasa tapi rapuh,

menggenggam dunia seolah abadi,

padahal waktu mengintai di setiap nafas.


Tuhan hadir lebih dekat dari nadi,

dalam sunyi yang sering dihindari,

dalam tangis yang disembunyikan,

dalam syukur yang kadang terucap lirih,

dan dalam sabar yang diuji tanpa henti.


Alam adalah ayat yang terbentang,

manusia adalah pembaca yang gelisah,

Tuhan adalah makna yang menunggu

untuk dipahami dengan iman

dan dijalani dengan amal.


Ketika manusia belajar merendah,

alam kembali ramah,

dan Tuhan menenangkan jiwa

yang pulang pada fitrahnya. 

Posting Komentar

0 Komentar