H. Mulyadi, S.P.
Penggerak Konsolidasi dan Kebangkitan Muhammadiyah Tulang Bawang
Oleh : Joko Riyanto
Ketua Pemuda Muhammadiyah Tulang Bawang
H. Mulyadi, S.P. merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan Muhammadiyah di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Ia dikenal sebagai figur pemimpin yang tumbuh dari proses pencarian spiritual, kemudian menemukan jalan pengabdian yang mantap di Muhammadiyah. Sejak terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulang Bawang untuk masa bakti 2022–2027, H. Mulyadi tampil sebagai penggerak konsolidasi organisasi, penguatan ideologi, dan pengembangan amal usaha Muhammadiyah secara signifikan.
Latar Belakang Kehidupan
H. Mulyadi berasal dari keluarga pendatang (seberang) dengan tradisi keagamaan yang kuat. Ia tumbuh dalam lingkungan religius yang memegang teguh praktik keislaman tertentu, bahkan cenderung menganggap sebagian amalan umat Islam sebagai bid’ah. Pola keberagamaan tersebut membentuk karakter disiplin dan keteguhan prinsip dalam dirinya sejak muda.
Latar belakang pendidikannya ditempuh di bidang pertanian, yang kemudian mengantarkannya meraih gelar Sarjana Pertanian (S.P.). Pendidikan ini turut membentuk cara berpikirnya yang sistematis, praktis, dan berorientasi pada keberlanjutan—nilai yang kelak tercermin dalam gaya kepemimpinannya di Muhammadiyah.
Perubahan besar dalam hidup H. Mulyadi bermula sekitar tahun 2000, ketika ia menikah dengan seorang kader ‘Aisyiyah. Perbedaan latar belakang pemahaman keagamaan menjadi dinamika tersendiri dalam rumah tangga mereka. Namun, dengan kesabaran dan keteladanan sang istri, H. Mulyadi mulai membuka diri untuk belajar dan mendalami Islam dari berbagai perspektif.
Selama kurang lebih empat tahun, ia aktif mengikuti pengajian dan kajian keislaman, tanpa ambisi struktural maupun kepentingan jabatan. “Saya hanya ingin belajar mengaji,” demikian pengakuannya. Dari proses inilah ia mulai memahami bahwa perbedaan dalam praktik keagamaan tidak harus berujung pada penolakan, melainkan dapat menjadi jalan menuju keluasan ilmu dan kedewasaan beragama.
Keterlibatannya dalam pendirian lembaga pendidikan bersama beberapa sahabat semakin mendekatkannya dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Ia mulai mengenal Muhammadiyah sebagai organisasi yang tertib, amanah, dan terbuka. Titik balik kesadarannya terjadi saat menghadiri Musyawarah Daerah Muhammadiyah sekitar tahun 2015. Dari forum itulah ia melihat langsung sistem organisasi yang sehat, mekanisme kepemimpinan yang jelas, serta budaya amar makruf nahi munkar yang dijalankan secara kolektif dan beradab.
Sejak saat itu, H. Mulyadi menyebut Muhammadiyah sebagai “pelabuhan terakhir” pengabdiannya.
Amanah Kepemimpinan
Melalui Musyawarah Daerah (Musyda) ke-4 Muhammadiyah Tulang Bawang, H. Mulyadi dipercaya menjadi Ketua PDM Tulang Bawang periode 2022–2027. Amanah tersebut diterimanya dengan penuh kesadaran, meskipun tidak lepas dari tantangan, termasuk perbedaan pilihan organisasi di lingkungan keluarga besarnya.
Sebagai kader yang relatif baru, ia menempatkan dirinya bukan sebagai tokoh yang paling berjasa, melainkan sebagai pelanjut estafet perjuangan para awalul al-awwalun. Baginya, tantangan kader hari ini adalah menjaga komitmen terhadap AD/ART, meneladani nilai-nilai perjuangan KH Ahmad Dahlan, Buya Hamka, dan para pendiri Muhammadiyah lainnya.
Di bawah kepemimpinan H. Mulyadi, Muhammadiyah Tulang Bawang mengalami lompatan signifikan. Konsolidasi organisasi dilakukan hingga ke pelosok daerah, menghasilkan terbentuknya dan dikukuhkannya 15 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) secara serentak—sebuah capaian monumental dalam sejarah Muhammadiyah setempat.
Penguatan amal usaha pendidikan menjadi prioritas utama. Sejumlah capaian strategis berhasil diwujudkan, di antaranya: Hibah SMK Muhammadiyah dari seorang dermawan di Jakarta yang kini resmi menjadi aset persyarikatan; Pembangunan SD Muhammadiyah Sang Surya, sekolah tiga lantai dengan 24 ruang belajar sebagai simbol kebangkitan pendidikan Muhammadiyah; Pembebasan lahan hampir Rp1 miliar melalui gerakan gotong royong warga persyarikatan; Perkembangan pesat MBS Tulang Bawang dengan pembukaan kampus kedua seluas satu hektare; Terbitnya izin pendirian sekolah Muhammadiyah baru, serta persiapan pendirian SMP Muhammadiyah Sang Surya sebagai jenjang lanjutan.
Selain itu, H. Mulyadi juga berhasil memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang. Salah satu capaian penting adalah hibah tanah dari Pemerintah Daerah Tulang Bawang kepada Muhammadiyah, yang menjadi aset strategis bagi pengembangan dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat di masa depan.
Gaya Kepemimpinan dan Pandangan
H. Mulyadi dikenal sebagai pemimpin yang moderat, terbuka, dan mampu merangkul berbagai elemen masyarakat. Ia menekankan pentingnya kerja kolektif dan tidak menempatkan diri sebagai figur sentral tunggal. Dalam perjalanannya, ia banyak mendapat dukungan dan inspirasi dari tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat, di antaranya Mas Hanif Ismail, Saiful Hadi, Didik (mantan Ketua PCM Banjar Agung), serta Aminudin (Ketua PDM dua periode sebelumnya).
“Jumlah kita boleh sedikit, tetapi keberadaan kita harus mewarnai dan memberi manfaat untuk umat,” menjadi salah satu prinsip yang kerap ia sampaikan.
Bagi H. Mulyadi, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan rumah besar pengabdian. Di dalamnya ia menemukan ketulusan, amanah, dan keberlanjutan perjuangan. Dengan kepemimpinannya, Muhammadiyah Tulang Bawang terus bergerak menuju fase baru—lebih tertata, progresif, dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Apa yang saya temukan di Muhammadiyah adalah ketulusan pengabdian dan amanah yang dijaga. Di sinilah saya merasa pulang.”

0 Komentar