SINYALMU.ID, Joko Riyanto merupakan anak muda Muhammadiyah yang lahir di Liwa pada 23 Januari 1995 dan tumbuh besar di Desa Varia Agung, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah. Ia dibesarkan dalam lingkungan pedesaan agraris yang sederhana, religius, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Konteks sosial tersebut menjadi ruang awal pembentukan karakter Joko Riyanto dalam memahami agama, kehidupan bermasyarakat, dan makna pengabdian.
Secara biologis dan sosiologis, Joko Riyanto tumbuh dalam keluarga muslim yang berakar kuat pada tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Ia merupakan putra dari Jumono dan Sumiatun, pasangan yang menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan keteladanan dalam kehidupan beragama. Ia hidup dan tumbuh bersama dua kakak kandung, yakni Yatmiati sebagai kakak pertama dan Suprapto sebagai kakak kedua. Lingkungan keluarga ini membentuk watak rendah hati, hormat kepada orang tua, serta kepekaan sosial yang kuat sejak usia dini.
Masa kecil Joko Riyanto dijalani dalam kultur Islam tradisional pedesaan, di mana masjid, pengajian kampung, dan figur tokoh agama menjadi pusat kehidupan sosial. Dalam konteks sosiologis tersebut, agama tidak hanya dipraktikkan sebagai sistem keyakinan, tetapi juga sebagai tradisi hidup yang menyatu dengan budaya lokal. Modal sosial dan kultural inilah yang membentuk karakter keislamannya yang moderat, inklusif, dan menghargai keberagaman praktik keagamaan.
Pendidikan formal Joko Riyanto dimulai di SD Negeri 3 Varia Agung. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Muhammadiyah 1 Purbolinggo, sebuah fase penting yang mempertemukannya secara lebih intens dengan tradisi pendidikan Muhammadiyah. Pada masa SMP tersebut, ia juga mengenyam pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Hikmah Purbolinggo, Lampung Timur.
Pengalaman mondok di pesantren Muhammadiyah menjadi titik balik penting dalam perjalanan keislaman dan ideologinya. Di pesantren inilah Joko Riyanto mulai mengenal Islam yang lebih sistematis, rasional, dan berorientasi pada pembaruan (tajdid), dengan penekanan pada disiplin, etos keilmuan, dan tanggung jawab sosial. Pengalaman ini memperluas horizon keagamaannya sekaligus mempertemukannya dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Secara kultural dan ideologis, pengalaman pesantren tersebut melahirkan proses dialektika identitas keagamaan. Joko Riyanto tidak meninggalkan akar tradisi NU yang membesarkannya, tetapi melakukan sintesis antara Islam kultural yang diwarisi dari keluarga dan masyarakat desa dengan paradigma Islam modernis Muhammadiyah. Proses ini membentuk karakter keislamannya yang inklusif, moderat, dan berorientasi pada kemajuan umat.
Pendidikan menengah atas ditempuhnya di SMA Negeri 1 Seputih Mataram. Pada fase ini, ketertarikannya terhadap dunia organisasi, keislaman, dan kepemimpinan mulai berkembang lebih serius. Minat tersebut kemudian mengantarkannya melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Di perguruan tinggi, Joko Riyanto menempuh studi pada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, dan menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) pada tahun 2018. Saat ini, ia sedang melanjutkan pendidikan Magister (S2) Program Studi Pendidikan Agama Islam, sebagai bagian dari ikhtiar penguatan kapasitas akademik dan profesionalisme sebagai kader persyarikatan.
Proses kaderisasi Joko Riyanto berlangsung secara sistematis melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD) sebagai pintu masuk ideologis Muhammadiyah, yang kemudian diperkuat melalui berbagai pelatihan strategis seperti Pelatihan Jurnalistik dan Fotografi Tempo Media Group Yogyakarta, Latihan Instruktur Dasar (LID) PC IMM Sleman, serta Darul Arqam Madya (DAM) PC IMM Sleman.
Penguatan orientasi intelektual dan ideologinya semakin mendalam ketika ia mengikuti Kursus Singkat Pemikiran Islam “Teologi Al-Ma’un sebagai Basis Islam Transformatif” yang diselenggarakan oleh Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) di Malang. Proses ini membentuk kesadarannya bahwa Islam bukan hanya sistem ritual, tetapi juga kekuatan moral dan sosial untuk membebaskan serta memberdayakan umat.
Setelah kembali ke daerah, Joko Riyanto terus mengikuti proses penguatan ideologi dan kepemimpinan melalui Baitul Arqam PDM Tulang Bawang, Darul Arqam Madya PW Pemuda Muhammadiyah Provinsi Lampung, serta Pendidikan Khusus KOKAM di Yonif 9 Marinir Pesawaran Lampung. Ia juga mengikuti Orientasi Teknis Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat, dan Mitra Kerja BKKBN Provinsi Lampung, yang memperluas wawasan kebangsaan dan kerja sosial lintas sektor.
Dalam pengabdian profesional, Joko Riyanto pernah berkiprah sebagai pendidik di SMP dan SMA Muhammadiyah 1 Menggala. Dunia pendidikan dipandangnya sebagai medan strategis kaderisasi dan transformasi sosial, sekaligus ruang aktualisasi nilai-nilai Islam berkemajuan.
Dalam struktur persyarikatan, Joko Riyanto dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulang Bawang periode 2023–2027 serta Sekretaris Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tulang Bawang. Di bidang kepemudaan, ia masih aktif sebagai Wakil Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Tulang Bawang periode 2023–2027, dan juga mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Tulang Bawang periode 2024–2028.
Selain kiprah struktural, Joko Riyanto aktif dalam dakwah kultural dan literasi. Ia dikenal sebagai penulis lepas berita dan artikel opini di berbagai media persyarikatan dan media umum, antara lain Suaramuhammadiyah.id, Suaraaisyiyah.id, Wasatiah.id, Wartamu.id, Tabloidmatahati.com, Sinyalmu.id, mbstuba.ponpes.id, dan Sumbermu.com. Aktivitas kepenulisan ini menjadi medium dakwah pencerahan sekaligus ruang artikulasi gagasan keislaman, pendidikan, dan kebangsaan.
Melalui perjalanan hidup yang berangkat dari keluarga NU di Desa Varia Agung, pengalaman pesantren Muhammadiyah, hingga kepemimpinan struktural di Persyarikatan, Joko Riyanto menegaskan dirinya sebagai tokoh muda Muhammadiyah yang berupaya menjembatani tradisi dan pembaruan. Komitmen pengabdiannya diarahkan pada penguatan kaderisasi, pengembangan pesantren Muhammadiyah, serta dakwah Islam berkemajuan yang berakar kuat pada realitas sosial umat.

0 Komentar