Oleh : Widiya Rahma
Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam UM Metro
Terdapat alasan yang beragam dibalik niat seseorang meningkatkan jenjang pendidikannya. Alasan yang paling utama dan mendominasi adalah untuk mendapat pekerjaan yang layak, bergaji tinggi, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun fakta yang tidak dapat dipungkiri, data terbaru menunjukkan bahwa yang menduduki peringkat tertinggi ke 3 dalam angka pengangguran merupakan lulusan jenjang perguruan tinggi.
Survei pengangguran berdasarkan jenjang pendidikan oleh Badan Pusat Statistik terbaru (Agustus 2025) menunjukkan lulusan SMK memiliki Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi (sekitar 8,63%), diikuti SMA (6,88%), lalu lulusan kampus D4-S3 (5,39%), dan D1-D3 (4,84%).
Fakta tersebut seakan menjadi ancaman kekhawatiran bagi para mahasiswa, sekaligus menjadi tamparan tentang apa tujuan dari tingginya jenjang pendidikan yang sesungguhnya ?
Di tengah meningkatnya minat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, hingga gelar Sarjana menjadi inflasi, Magister seakan begitu mudah didapati, atau menjadi Doktor bisa lulus tanpa pusing menyusun disertasi. Dewasa ini, semakin banyak terlihat orang-orang yang melanjutkan pendidikan bukan karena ingin lebih “memahami”, melainkan ingin lebih “diakui”.
Meningkatkan jenjang pendidikan yang idealnya menjadi ikhtiar dalam memperluas cakrawala pengetahuan dan memperkaya pengalaman, justru dalam praktiknya, kerap direduksi menjadi sekadar simbol formalitas demi selembaran ijazah dan beberapa huruf yang menjadi gelar di belakang nama.
Fenomena seperti inilah yang akhirnya merubah pandangan masyarakat. Sehingga gelar yang bagi sebagian orang telah diusahakan dengan susah payah, namun karena beberapa lainnya kerap mengambil jalan mudah, menjadikan nilai kehormatan gelar telah mengalami pergeseran.
Banyak orang yang memutuskan untuk melanjutkan kuliah, mengejar gelar S1, S2, bahkan S3, namun dengan mengambil jalan pintas yang paling mudah. Fenomena jalan pintas yang sering terjadi di dunia kuliah antara lain : titip absen, joki tugas (baik itu tugas sehari- hari maupun tugas akhir), dan ketergantungan pada Artificial Intellegence (dari mulai membuat presentasi, membuat pertanyaan, menjawab disukusi) semua bengantung pada AI.
Praktik-praktik semacam ini menunjukkan mirisnya kualitas lulusan perguruan tinggi. Mereka fokus pada hasil akhir berupa gelar dan ijazah hingga lupa bertanya kepada diri sendiri “Apakah pengetahuanku sudah bertambah?”, dan “Apakah kompetensiku sudah sesuai dengan gelar yang akan aku sandang ?”. Padahal, ijazah dan gelar yang di sandang tanpa luasnya pengetahuan dan kayanya pengalaman cenderung bernilai nol di mata sosial maupun kebutuhan dunia kerja.
Sebagai seorang mahasiswa baru dalam jenjang S2 pendidikan, saya pernah mendapat pertanyaan yang sangat menarik dan terus terngiang dalam pikiran, pertanyaan dari salah seorang dosen yang pemikirannya begitu saya kagumi. Kurang lebih begini, “Jika anda saya beri kesempatan untuk cukup bayar saja, bisa langsung lulus, dan menyandang gelar Magister tanpa harus lelah seharian duduk di bangku kuliah, dan mengerjakan tugas-tugas menumpuk yang hampir membuat kepala pecah itu, apakah anda mau?”
Dengan begitu yakin dan spontan saya katakan “Tidak, Pak”. “Apa alasannya?”, sahut beliau. Dengan berani saya katakan alasan yang begitu jujur “Saya memutuskan untuk menjalani S2 ini bukan untuk selembar ijazah dan gelar. Saya fokus pada poses yang ingin saya alami, untuk meningkatkan kemampuan berpikir, wawasan, dan pegetahuan. Jikalaupun saya sudah bayar UKT, mengerjakan semua tugas, dan lelah mengikuti perkuliahan, tapi akhirnya saya tidak dapat ijazah dan gelar namun saya dapatkan pengalaman dan pengetahuan, dengan penuh semangat saya akan tetap menjalaninya.”
Sebagai salah satu guru SMA Boarding School, saya mengajar anak-anak yang sebentar lagi akan melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi. Saya pernah menanyakan pertanyaan serupa yang pernah saya dapati dari dosen itu, “Bagaimana jika kamu Ibu tawari, cukup bayar 10 juta dan kamu akan langsung menyandang gelar Sarjana tanpa harus kuliah 4 tahun lamanya”. Seluruh anak perempuan menjawab “Tidak mau”. Tapi mirisnya, seluruh anak laki-laki menjawab “Mau”.
Fenomena tersebut membuat saya bertanya tentang bagaimana anak-anak laki-laki itu memaknai sebuah pendidikan. Ketika ditanyai alasannya, mereka menjawab “Supaya cepat dapat kerja, Bu”.
Pernyataan ini membuktikan bahwa pendidikan, bagi sebagian orang telah dianggap sebagai sekadar pabrik penghasil tenaga kerja, atau batu loncatan industri. Seharusnya, mendapat pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi menjadi bonus dari matangnya hasil berpikir dan memperkaya pengalaman setelah menjalani perkuliahan, bukannya menjadi tujuan utama pendidikan yang dijalani.
Pendidikan telah bergeser nilai dan tujuannya, bukan lagi seperti yang tercantum dalam UU. No. 20 Tahun 2003 pasal 3 “Tujuan pendidikan yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis juga bertanggung jawab”.
Atau sebagaimana tujuan pendidikan dalam Islam yakni membentuk manusia seutuhnya (insan kamil) yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan berilmu, mengabdi kepada Allah (Abdullah), dan menjadi pemimpin di muka bumi (Khalifatullah). Bagaimana tujuan-tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai hanya dengan membeli ijazah selembaran, tanpa menjalani proses pembentukannya.
Tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai melalui pengembangan potensi spiritual, pengembangan intelektual, pengembangan emosional, hingga pengembangan aspek sosial secara seimbang. Dan inilah yang seharusnya dijalani oleh setiap mahasiswa saat duduk di bangku kuliah. Supaya ketika lulus, berkompetensi, dan pantas dengan gelar yang disandangi.
Duduk di bangku kuliah, bertemu orang-orang cerdas, dan berkesempatan untuk menggali pemikirannya adalah sebuah kemewahan. Kemewahan yang tidak semua orang berkesempatan untuk merasakan. Nikmati setiap hidangan lezat di bangku kuliah itu, apapun jenjang dan jurusannya. Berpikir keras, keluar dari zona nyaman, dan mulai coba hal- hal baru.
Kampus adalah tempat dimana kita bisa melihat kemajuan sebuah peradaban. Di sana orang-orang mencari keilmuan, mengasah kemampuan berpikir, dan memiliki kemauan untuk berkembang. Maka ambil setiap kesempatan, dan jadilah sebagaimana “mahasiswa” yang lebih berkembang dari sekadar “siswa”.
Meningkatkan jenjang pendidikan harus diawali dengan refleksi jujur kepada diri sendiri, tentang apa tujuan yang melatar belakangi, dan apa fokus yang ingin di cari. Apakah berfokus pada sekadar simbolis hasil akhir, gelar dan ijazah selembaran itu? atau pada proses yang mendewasakan cara berpikir sehingga menjadi manusia yang berkualitas dan berkompetensi.

0 Komentar