
Menanamkan Karakter Unggul Anak Sejak Pola Pengasuhan Dini
Seruan penguatan pendidikan karakter yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merupakan upaya sadar dan terencana untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Upaya ini mencakup aspek pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan nyata dalam mengamalkan nilai-nilai karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter sejatinya tidak dapat dibatasi hanya pada ruang kelas dan kurikulum sekolah. Ia harus dipahami secara menyeluruh dan sistemik, dengan melibatkan berbagai lintas sektor dan kelembagaan. Pedoman pengasuhan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), pendidikan keagamaan dari Kementerian Agama, serta kebijakan pendukung lainnya memiliki kontribusi besar dalam memperkuat pendidikan karakter anak.
Pola pengasuhan yang responsif, konsisten, dan berlandaskan nilai menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak yang tangguh. Oleh sebab itu, pendidikan karakter sejatinya berakar dari praktik pengasuhan yang dimulai sejak usia dini, bahkan sebelum anak lahir.
Merujuk pada panduan di laman elearning.kemenppa.go.id, pengasuhan ideal sudah diupayakan sejak masa kehamilan. Ikatan emosional antara Ayah dan Ibu dengan janin melalui sentuhan, komunikasi verbal, serta suasana rumah yang aman dan nyaman menjadi tahap awal pembentukan karakter. Setelah anak lahir, keluarga menjadi lingkungan utama tempat anak menyerap nilai, kebiasaan, dan perilaku. Sebagai institusi sosial terkecil, keluarga memiliki pengaruh paling besar terhadap pembentukan karakter anak.
Orang Tua sebagai Aktor Utama Pengasuhan
Sebagai lingkungan pertama yang dikenal anak, orang tua tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan fisik seperti pangan, sandang, dan papan. Lebih dari itu, orang tua berperan penting dalam membangun kebiasaan berbasis nilai dan perilaku positif. Nilai kejujuran, disiplin, empati, serta tanggung jawab dapat ditanamkan melalui keteladanan dan interaksi dalam keseharian.
Di tengah tuntutan ekonomi dan pengembangan diri, keterlibatan aktif Ayah dan Ibu dalam pengasuhan tetap menjadi keharusan. Pola asuh yang penuh perhatian dan partisipatif membantu anak mengembangkan rasa percaya diri, keterampilan sosial, serta kemampuan mengontrol diri. Inilah fondasi karakter yang dibangun dari kebiasaan di dalam rumah.
Selain itu, pemahaman terhadap hak-hak anak dalam pengasuhan menjadi hal yang tidak terpisahkan. Hak dasar seperti kesehatan, kasih sayang, dan perlindungan; hak pengembangan berupa pendidikan, rekreasi, dan partisipasi; serta hak sipil seperti identitas hukum, perlu dipenuhi secara seimbang. Pemenuhan hak-hak ini memungkinkan anak tumbuh secara utuh, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Untuk mendukung peran orang tua yang reflektif dan komprehensif, dibutuhkan program parenting yang berkelanjutan. Kehadiran komunitas belajar keluarga, forum konsultasi pengasuhan yang mudah diakses, serta kolaborasi antara sekolah, pemerintah, LSM, dan keluarga akan memperkuat ekosistem pendidikan karakter yang berkelanjutan.
Mendorong Partisipasi Anak dalam Pengasuhan
Partisipasi anak merupakan salah satu prinsip penting dalam perlindungan dan pendidikan karakter. KemenPPPA mendefinisikan partisipasi anak sebagai keterlibatan aktif anak dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupannya, dilakukan secara sadar dan sukarela. Prinsip ini efektif dalam menumbuhkan karakter tanggung jawab, kemandirian, dan rasa percaya diri.
Di sekolah, partisipasi anak dapat diwujudkan melalui pemilihan ketua kelas, musyawarah, atau forum anak. Sementara di rumah, partisipasi dapat diterapkan dengan memberi kesempatan anak memilih menu makanan, menentukan bacaan, atau menyepakati aturan bersama. Proses ini mengajarkan bahwa setiap keputusan adalah hasil dialog, bukan sekadar kehendak sepihak orang tua.
Berdasarkan pengalaman subjektif penulis, pemenuhan hak partisipasi anak berpengaruh signifikan terhadap sikap tanggung jawab anak atas pilihannya. Anak menjadi lebih disiplin, memiliki empati yang tinggi, serta tumbuh sebagai pribadi yang terbuka dan komunikatif.
Mendorong partisipasi anak tidak hanya membentuk karakter positif, tetapi juga membangun relasi yang sehat antara anak dan orang tua. Hal ini sejalan dengan Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi Indonesia dan diimplementasikan dalam berbagai kebijakan nasional.
Peran Sekolah dalam Menguatkan Forum Wali Siswa
Sebagai mitra strategis keluarga, sekolah memiliki peran penting dalam menyinergikan pola pengasuhan orang tua dengan pendidikan karakter. Salah satu langkah efektif adalah mengaktifkan forum wali siswa secara rutin dan bermakna. Forum ini dapat menjadi ruang dialog antara guru dan orang tua untuk merefleksikan perkembangan karakter anak.
Sejumlah sekolah telah menerapkan model kolaboratif melalui forum tersebut, di mana wali kelas berperan sebagai fasilitator diskusi, bukan sekadar penyampai informasi. Dampaknya, orang tua merasa lebih dilibatkan, sementara anak merasakan keselarasan nilai antara rumah dan sekolah.
Optimalisasi forum wali siswa juga memperkuat jejaring sosial pendukung pendidikan karakter. Forum ini dapat menjadi ruang berbagi praktik baik antar orang tua sekaligus membangun komunitas pengasuhan yang saling menguatkan.
Aktivitas Pengasuhan Sehari-hari yang Membentuk Karakter
Pengasuhan harian merupakan ruang paling nyata dalam pembentukan karakter anak. Aktivitas sederhana seperti makan bersama, berbincang sebelum tidur, atau membaca buku bersama dapat menjadi sarana internalisasi nilai-nilai karakter.
Nilai tanggung jawab dapat ditanamkan melalui kebiasaan merapikan mainan atau membantu membereskan kamar. Empati dan toleransi tumbuh melalui dialog tentang perasaan dan keberagaman ekspresi emosi. Pengalaman-pengalaman konkret inilah yang membentuk nilai dalam diri anak.
KemenPPPA menekankan pentingnya pengasuhan yang inklusif, non-diskriminatif, serta sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dalam sepuluh paradigma pengasuhan anak, komponen utama meliputi Ayah, Ibu, makanan, kasih sayang, dan kesehatan. Komponen lainnya mencakup tempat tinggal, keamanan, pendapatan, pendidikan, pakaian, rekreasi, keluarga besar, hingga mainan. Dari keseluruhan komponen tersebut, Ayah dan Ibu tetap menjadi pilar utama dalam pengasuhan. Keduanya adalah fondasi awal lahirnya generasi yang berkarakter kuat dan berdaya.
0 Komentar