Ada satu hal yang menarik dari manusia: kita diberi akal, lalu menggunakan akal itu untuk memperdebatkan bagaimana seharusnya akal digunakan.
Agak lucu memang.
Dari sinilah filsafat lahir. Manusia mulai bertanya tentang segala macam hal. Dari pertanyaan yang kelihatannya sederhana seperti “Apa itu kebenaran?” sampai pertanyaan yang bikin kepala berdenyut seperti “Kalau Tuhan menciptakan manusia, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?”
Nah, dalam sejarah pemikiran manusia, kita kemudian mengenal banyak tradisi filsafat. Dua di antaranya yang sering dibandingkan adalah filsafat Barat dan filsafat Islam.
Sekilas kelihatannya seperti dua kubu yang siap tanding.
Barat di sebelah kiri, Islam di sebelah kanan.
Padahal, kalau kita lihat sejarahnya dengan lebih santai, ceritanya tidak sesederhana itu.
Orang Yunani Mulai Bertanya yang Aneh-Aneh
Kalau kita ingin membicarakan filsafat Barat, kita biasanya akan diajak jalan-jalan ke Yunani Kuno.
Di sana ada Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Mereka adalah orang-orang yang tampaknya tidak puas dengan jawaban sederhana.
Orang lain mungkin melihat hujan lalu berkata, “Ya hujan.”
Sang filosof malah bertanya:
“Kenapa hujan?”
Lalu lanjut:
“Apa sebenarnya air?”
Kemudian:
“Apakah sesuatu yang kita lihat benar-benar seperti yang kita pikirkan?”
Dan akhirnya semua orang di sekitar mungkin memilih pulang.
Socrates terkenal dengan kebiasaannya bertanya. Masalahnya, pertanyaan Socrates sering membuat lawan bicaranya sadar bahwa sebenarnya mereka tidak tahu sebanyak yang mereka kira.
Ini sebenarnya pelajaran penting dari filsafat: mengakui bahwa kita tidak tahu adalah awal dari pengetahuan.
Setelah Socrates ada Plato. Lalu ada Aristoteles yang pemikirannya luar biasa luas. Aristoteles membahas logika, etika, politik, alam, manusia, bahkan soal bagaimana sebuah argumen seharusnya disusun.
Jadi, kalau hari ini kita bisa berdebat dengan struktur yang agak masuk akal, salah satu leluhurnya mungkin Aristoteles.
Lalu Filsafat Yunani Ketemu Dunia Islam
Nah, bagian ini menarik.
Ketika peradaban Islam berkembang, umat Islam tidak hidup dalam ruang kosong. Mereka bertemu dengan berbagai tradisi ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia, India, dan wilayah lainnya.
Karya-karya filsafat Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Aristoteles pun “masuk” ke dunia Islam.
Tetapi jangan dibayangkan para pemikir Muslim cuma menerima semua pemikiran Yunani lalu berkata:
“Wah, bagus. Kita copy saja.”
Tidak begitu.
Mereka membaca, mempelajari, mengembangkan, bahkan mengkritiknya.
Dari sinilah lahir para pemikir seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rushd.
Mereka tidak hanya bertanya:
“Bagaimana alam bekerja?”
Tetapi juga:
“Bagaimana alam berhubungan dengan Allah?”
Mereka tidak hanya bertanya:
“Apa itu manusia?”
Tetapi:
“Apa hakikat jiwa manusia?”
Dan tidak berhenti pada:
“Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan?”
Tetapi juga:
“Bagaimana akal manusia berhubungan dengan wahyu?”
Nah, di sinilah filsafat Islam memiliki karakter yang khas.
Akal Boleh Jalan, Tapi Jangan Lupa Pulang
Kalau disederhanakan, salah satu ciri penting filsafat Islam adalah adanya dialog antara akal dan wahyu.
Akal digunakan untuk berpikir.
Wahyu menjadi sumber petunjuk.
Keduanya tidak selalu dianggap sebagai musuh.
Ini penting karena kadang-kadang kita salah memahami filsafat Islam.
Ada anggapan:
“Kalau sudah belajar filsafat, nanti imannya hilang.”
Padahal tidak sesederhana itu.
Para filosof Muslim justru menghabiskan banyak waktu untuk membicarakan Tuhan.
Ibn Sina, misalnya, mengembangkan konsep Wajib al-Wujud, yaitu Wujud yang keberadaannya niscaya dan tidak bergantung kepada sesuatu yang lain.
Sederhananya begini.
Kita ada karena orang tua kita.
Orang tua kita ada karena orang tua mereka.
Begitu terus.
Lalu kalau semua yang ada selalu bergantung kepada sesuatu yang lain, pertanyaannya:
“Apakah rantai ketergantungan itu bisa berjalan tanpa adanya sesuatu yang tidak bergantung?”
Ibn Sina menjawab bahwa harus ada Wujud yang keberadaannya tidak bergantung pada yang lain.
Itulah Wajib al-Wujud.
Jadi, filosof Muslim tidak sedang meninggalkan Tuhan ketika menggunakan akal.
Mereka justru sedang menggunakan akal untuk berbicara tentang Tuhan.
Tapi Kemudian Al-Ghazali Datang
Di sinilah ceritanya mulai seru.
Al-Ghazali membaca pemikiran para filosof.
Kemudian beliau mengkritik beberapa pendapat mereka dalam karya yang terkenal, Tahafut al-Falasifah.
Kurang lebih suasananya seperti:
“Sebentar. Saya tidak sepakat dengan beberapa kesimpulan kalian.”
Perdebatan pun terjadi.
Namun yang menarik, Al-Ghazali bukan orang yang antiakal. Beliau sendiri menggunakan argumentasi rasional dalam banyak karya.
Jadi masalahnya bukan:
“Akal versus agama.”
Lebih tepat:
“Sejauh mana akal boleh berjalan dan bagaimana akal harus berhubungan dengan wahyu?”
Lalu datang Ibn Rushd.
Ibn Rushd membela penggunaan filsafat dan berusaha menunjukkan bahwa antara kebenaran rasional dan wahyu yang benar tidak seharusnya ada pertentangan hakiki.
Kalau kelihatannya bertentangan?
Mungkin cara kita memahami teks atau argumentasinya yang perlu diperiksa.
Nah, ini menarik.
Dua-duanya sama-sama menggunakan akal.
Tetapi mereka berbeda dalam beberapa kesimpulan filosofis.
Artinya, orang yang sama-sama cerdas, sama-sama serius, sama-sama beragama, dan sama-sama menggunakan akal tetap bisa berbeda pendapat.
Ini sepertinya kabar buruk bagi orang yang menganggap setiap perbedaan pendapat berarti salah satu pihak pasti bodoh.
Jadi Apa Bedanya Filsafat Barat dan Filsafat Islam?
Kalau ingin dibuat sesederhana mungkin, kira-kira begini.
Filsafat Barat berkembang dalam berbagai tradisi pemikiran yang sangat luas. Ada yang religius, ada yang sekuler, ada yang percaya Tuhan, ada yang meragukan Tuhan, bahkan ada yang menolak keberadaan Tuhan.
Jadi jangan sampai kita mengatakan:
“Filsafat Barat itu ateis.”
Itu terlalu menyederhanakan.
Sementara filsafat Islam berkembang dalam lingkungan intelektual Islam. Karena itu, pembahasannya banyak berkaitan dengan tauhid, wahyu, kenabian, jiwa, akhlak, dan hubungan manusia dengan Allah.
Dengan kata lain, perbedaannya bukan sekadar:
Barat = akal
Islam = wahyu
Bukan.
Filsafat Islam juga menggunakan akal.
Bahkan sangat serius menggunakan akal.
Yang membedakan adalah kerangka berpikir dan sumber-sumber yang menjadi dasar pencarian kebenaran.
Tapi Sebenarnya Mereka Sering Bertemu
Hal yang sering kita lupakan adalah bahwa filsafat Barat dan filsafat Islam tidak hidup dalam dua dunia yang benar-benar terpisah.
Justru mereka saling memengaruhi.
Filsafat Yunani memberi pengaruh besar kepada para pemikir Muslim.
Kemudian karya-karya filosof Muslim, terutama pemikiran Ibn Rushd, turut memengaruhi perkembangan pemikiran di Eropa.
Jadi sejarah filsafat bukan cerita:
“Ini punya Barat, itu punya Islam.”
Lebih mirip orang-orang yang saling pinjam buku, kemudian membaca, mengomentari, membantah, mengembangkan, lalu menulis buku baru.
Kalau dipikir-pikir, memang begitulah ilmu pengetahuan berkembang.
Tidak ada pemikiran yang benar-benar lahir dari ruang hampa.
Jangan-Jangan Kita Terlalu Cepat Takut pada Filsafat
Masalahnya, hari ini kata “filsafat” kadang terdengar menyeramkan.
Ada yang mendengar filsafat lalu langsung membayangkan:
“Wah, nanti jadi tidak percaya Tuhan.”
Padahal filsafat sebenarnya mengajarkan satu kebiasaan sederhana:
Jangan mudah percaya sebelum berpikir.
Tetapi ada catatan penting:
Jangan juga merasa sudah berpikir hanya karena kita tidak percaya.
Skeptis bukan berarti otomatis pintar.
Tidak percaya pada sesuatu tanpa alasan juga bukan filsafat.
Filsafat meminta kita memberikan alasan.
Kalau kita mengatakan:
“Pendapat saya benar.”
Filsafat akan bertanya:
“Kenapa?”
Kalau kita menjawab:
“Karena menurut saya.”
Filsafat akan bertanya lagi:
“Dasarnya apa?”
Di sinilah filsafat kadang terasa menyebalkan.
Sebab ia tidak gampang menerima jawaban “pokoknya”.
Pada Akhirnya, Akal Itu Alat
Mungkin ini bagian paling penting.
Akal adalah alat untuk berpikir.
Tetapi seperti semua alat, hasilnya bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.
Pisau bisa digunakan untuk memasak, tetapi bisa juga digunakan untuk melukai.
Begitu juga akal.
Akal bisa digunakan untuk mencari kebenaran.
Tetapi akal juga bisa digunakan untuk membenarkan sesuatu yang sejak awal ingin kita percayai.
Karena itu, belajar filsafat bukan sekadar belajar bagaimana menjadi pintar berdebat.
Lebih jauh dari itu, filsafat mengajarkan kita untuk bertanya dengan benar, memberikan alasan dengan jujur, dan berani mengakui ketika ternyata kita keliru.
Dan mungkin di situlah filsafat Barat dan filsafat Islam sebenarnya bertemu:
keduanya sama-sama mengajak manusia untuk berpikir.
Bedanya, filsafat Islam membawa aktivitas berpikir itu ke dalam percakapan yang lebih luas dengan wahyu, tauhid, dan kehidupan spiritual.
Jadi, kalau suatu hari ada orang berkata,
“Jangan belajar filsafat, nanti kebanyakan mikir.”
Mungkin jawabannya sederhana:
“Memang. Justru itu masalahnya. Kita selama ini terlalu sering percaya tanpa mikir.”
Dan mungkin, sekali-sekali, kepala kita memang perlu diajak bekerja lebih keras daripada sekadar memikirkan kapan gajian.

0 Komentar