Refleksi Kemerdekaan ke-81 RI dan Doa Nabi Ibrahim: Membongkar Tiga Luka Bangsa dan Duka dari Flores


Halimatussa'diah, S.Pd
Ketua Bidang Immawati PC IMM Kota Bandar Lampung & Anggota Bidang Kader PW NA Lampung

Merdeka! Pekik itu kembali memenuhi ruang publik saban Agustus. Namun di usia Indonesia yang menapak 81 tahun ini, teriakan tersebut kian sering terdengar sebagai gema retorika di tengah lorong sunyi ketimpangan sosial. Sebagai perempuan yang bergerak bersama kelompok masyarakat sipil dan kaum rentan, pertanyaan mendasar yang membakar dada kita hari ini adalah: Apakah kemerdekaan ini telah sungguh-sungguh membebaskan jiwa, raga, dan tanah air kita dari belenggu ketidakadilan?

Mari kita kembali menyelami doa Nabi Ibrahim AS saat meletakkan pondasi Peradaban Makkah, sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 129:

"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, serta menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."

Ayat ini bukan sekadar rekaman sejarah, melainkan sebuah cetak biru (blueprint) pembangunan peradaban yang utuh: integritas moral (tazkiyah), sistem pengetahuan dan hukum (Al-Kitab), serta kearifan bertindak (Hikmah). Bila kita cerminkan firman ilahi ini pada kanvas Indonesia hari ini, kita mendapati betapa jauhnya pilar-pilar tersebut dari tatanan berbangsa kita.

Tiga Luka Bangsa Korupsi, Kerusakan Ekologis, dan Krisis Pendidikan

Sebagai bagian dari gerakan perempuan yang mengawal isu-isu kemanusiaan, saya menyaksikan bagaimana dampak ketimpangan nasional selalu memukul kelompok yang paling rentan: kaum perempuan, anak-anak, dan masyarakat lokal.

Luka pertama yang menggerogoti bangsa ini adalah korupsi, yang meruntuhkan nilai tazkiyah atau penyucian moral. Korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar kejahatan keuangan, melainkan kejahatan kemanusiaan. Ketika dana publik, jaminan sosial, hingga anggaran kebencanaan digerogoti, nilai kemanusiaan ikut diinjak-injak. Korupsi menjadi cermin jiwa pragmatis yang gersang akan etika, sebab saat segelintir elit memupuk kekayaan, jutaan anak di pelosok justru kehilangan akses gizi dan masa depan yang layak.

Di saat yang sama, bangsa kita mengalami pengikisan nilai hikmah melalui kerusakan lingkungan secara masif. Hutan dibabat, pesisir dikeruk, dan ruang hidup dirusak atas nama pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Kita telah kehilangan kearifan dalam bertetangga dengan alam. Dalam krisis ekologis ini, perempuan kerap menanggung beban terberat mulai dari urusan ketersediaan air bersih hingga pemenuhan pangan keluarga. Merusak lingkungan berarti mengancam fondasi peradaban yang seharusnya kita wariskan kepada generasi mendatang.

Luka tersebut kian diperparah oleh kerdilnya pengajaran Al-Kitab akibat ketimpangan sistem pendidikan. Sistem pendidikan kita masih kerap terjebak pada formalitas administratif dan komersialisasi, sementara kualitas pengajaran di daerah terpencil jauh tertinggal. Tanpa pendidikan berbasis penyucian karakter dan kesadaran kritis, kemerdekaan hanya menjadi milik mereka yang berpunya, sementara kelompok marjinal terus dipinggirkan.

Renungan Bencana di Flores, NTT

Di tengah jeritan luka sosial-ekologis tersebut, saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali diuji oleh deretan bencana alam. Erupsi gunung berapi hingga guncangan gempa bukan sekadar fenomena geologis belaka. Dalam perspektif kesadaran kritis dan kerohanian, bencana adalah peringatan (I'tibar) atas kerapuhan tatanan mitigasi dan ketimpangan pembangunan kita.

Flores tanah eksotis yang kaya akan nilai kebudayaan dan ketangguhan perempuannya menjadi cermin ujian kemanusiaan nasional. Saat bencana melanda NTT, kita menyaksikan betapa rentannya ruang hidup warga, lambatnya penanganan darurat di wilayah kepulauan, serta minimnya fasilitas pemulihan berbasis kebutuhan spesifik kelompok rentan.

Ketabahan warga dan ketangguhan perempuan Flores di tempat pengungsian mengetuk nurani kita. Kemerdekaan sejati adalah hadirnya negara secara utuh di saat rakyatnya berada dalam titik terendah. Bencana di Flores mengajak kita mengevaluasi kembali, apakah rasa kebangsaan kita sungguh-sungguh mewujud dalam empati dan tindakan nyata, atau sekadar empati sesaat di media sosial?

Membangun Ulang Jiwa Merdeka

Al-Baqarah ayat 129 mengajarkan bahwa peradaban yang kokoh tidak dibangun hanya dengan kemegahan fisik atau retorika politik, melainkan dengan pencerahan ilmu (kitab), kearifan (hikmah), dan pembersihan jiwa dari keserakahan (tazkiyah).

Memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaan, saatnya gerakan perempuan dan seluruh elemen masyarakat sipil mengambil peran kepemimpinan moral. Perjuangan ini menuntut pembersihan total dari korupsi melalui penegakan hukum yang berkeadilan dan pembenahan moralitas publik. Langkah tersebut harus berjalan seiring dengan perwujudan keadilan ekologis melalui penghentian eksploitasi alam yang merusak serta penghormatan pada hak-hak masyarakat adat atas lingkungan yang bersih.

Selain itu, diperlukan perombakan mendasar pada arsitektur pendidikan agar berorientasi pada pembentukan karakter mulia, nalar kritis, dan akses yang merata tanpa diskriminasi. Semua pilar pembenahan ini pada akhirnya harus ditopang oleh penguatan sistem tanggap bencana nasional yang berperspektif keadilan sosial serta memberikan perlindungan nyata bagi kelompok rentan.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah statis yang selesai dirayakan tiap 17 Agustus, melainkan amanah perjuangan yang harus terus diperbarui. Mari kita jadikan momen refleksi ke-81 ini untuk menyucikan jiwa bangsa, mengembalikan hikmah dalam bernegara, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa dari Sabang sampai Flores, NTT yang tertinggal dalam arus ketidakadilan.

 

Posting Komentar

0 Komentar