TUBAN — Berdasarkan pemberitaan yang dimuat di Muhammadiyah.or.id, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan kembali jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan gerakan tajdid atau pembaruan sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 4.
Dalam berita yang ditulis Fiya dan dipublikasikan Muhammadiyah.or.id tersebut, Abdul Mu’ti menyampaikan penegasan itu saat menghadiri peresmian Amal Usaha Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban pada Ahad (11/1).
Muhammadiyah.or.id mengutip pernyataan Mu’ti bahwa sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan utama dalam setiap aktivitas persyarikatan. Seluruh program dan amal usaha Muhammadiyah diarahkan untuk membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
“Setiap kegiatan Muhammadiyah selalu berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah,” ujar Mu’ti sebagaimana dikutip Muhammadiyah.or.id.
Lebih lanjut, dalam pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa Muhammadiyah juga merupakan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang berbasis pada ilmu pengetahuan. Mu’ti menegaskan bahwa ma’ruf memiliki makna mengetahui dan memahami kebenaran secara tepat.
Muhammadiyah.or.id juga melaporkan bahwa sejak berdiri pada tahun 1912, Muhammadiyah telah mengimplementasikan dakwah amar ma’ruf nahi munkar melalui bidang pendidikan dan kesehatan, dengan mendirikan sekolah serta Klinik Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Hingga kini, amal usaha tersebut berkembang menjadi ratusan sekolah dan rumah sakit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Masih menurut Muhammadiyah.or.id, Mu’ti menyebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid terus mendorong pembaruan dalam pemikiran, pemahaman keagamaan, dan metode gerakan. Hal tersebut tercermin dari lahirnya gagasan-gagasan progresif seperti fikih kebencanaan, fikih air, dan fikih kelautan yang telah mendapatkan perhatian di tingkat internasional.
Dalam aspek gerakan, Muhammadiyah.or.id mencatat peran Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai wujud pembaruan nyata Muhammadiyah dalam merespons persoalan kebencanaan. Meski relatif muda, MDMC telah memperoleh pengakuan global dan sertifikasi resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menutup pemberitaan tersebut, Abdul Mu’ti berpesan agar Muhammadiyah terus memperkuat dakwah yang inklusif, terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, sembari tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Red)
Sumber berita : Muhammadiyah.or.id

0 Komentar