Manusia sebagai Makhluk yang Berfilsafat Sejak Dini

 


Filsafat sering dianggap sebagai ilmu yang sulit, abstrak, dan hanya dapat dipahami oleh orang dewasa atau kaum intelektual. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, filsafat justru berawal dari kebiasaan sederhana manusia: bertanya. Sejak usia dini, manusia telah menunjukkan sikap filosofis melalui rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia di sekitarnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang berfilsafat.

Seorang anak kecil sering mengajukan pertanyaan seperti, “Mengapa langit berwarna biru?”, “Dari mana manusia berasal?”, atau “Mengapa kita harus berbuat baik?”. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung makna filosofis yang mendalam. Pertanyaan tersebut menyentuh persoalan tentang alam, manusia, dan nilai kehidupan. Inilah bukti bahwa aktivitas berfilsafat bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia, melainkan bagian dari kodratnya.

Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Plato, seorang filsuf besar Yunani Kuno. Plato menyatakan bahwa filsafat bermula dari thaumazein, yaitu rasa heran atau kagum. Rasa heran ini mendorong manusia untuk bertanya dan mencari kebenaran. Anak-anak, dengan kepolosannya, justru sangat kaya akan rasa heran. Mereka tidak menerima sesuatu begitu saja, tetapi ingin mengetahui alasan di balik setiap peristiwa. Dalam hal ini, anak-anak dapat dikatakan sebagai filsuf alami.

Pandangan Plato kemudian dikembangkan oleh muridnya, Aristoteles, yang menyebut manusia sebagai zoon logikon, yaitu makhluk yang berpikir dan menggunakan akal. Menurut Aristoteles, kemampuan berpikir inilah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Dengan akalnya, manusia mampu merenung, menimbang, dan mencari sebab-akibat suatu peristiwa. Proses berpikir ini merupakan inti dari kegiatan berfilsafat.

Dalam sejarah filsafat modern, René Descartes juga menegaskan bahwa berpikir adalah bukti utama keberadaan manusia. Ungkapan terkenalnya, Cogito ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada), menunjukkan bahwa aktivitas berpikir merupakan ciri paling mendasar dari manusia. Bahkan ketika seseorang meragukan segalanya, ia tidak dapat meragukan bahwa dirinya sedang berpikir. Ini menegaskan bahwa berfilsafat tidak terpisahkan dari eksistensi manusia itu sendiri.

Sementara itu, Socrates, filsuf yang dikenal dengan metode bertanya, memberikan teladan nyata tentang pentingnya pertanyaan dalam filsafat. Socrates tidak mengajarkan filsafat melalui ceramah panjang, tetapi melalui dialog dan pertanyaan kritis. Ia percaya bahwa kebenaran dapat ditemukan dengan terus bertanya dan menguji jawaban. Metode Socrates ini sangat relevan dengan dunia pendidikan, karena mendorong siswa untuk berpikir aktif, bukan sekadar menghafal.

Dalam konteks pendidikan, pengenalan filsafat sejak dini memiliki peran yang sangat penting. Filsafat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan reflektif. Dengan filsafat, siswa belajar untuk tidak menerima informasi secara mentah, tetapi menelaahnya secara rasional. Hal ini sangat dibutuhkan di era modern, di mana arus informasi begitu cepat dan tidak semuanya benar.

Tokoh filsafat Islam, Al-Farabi, juga menekankan pentingnya akal dalam memahami kebenaran. Menurut Al-Farabi, manusia dianugerahi akal untuk membedakan yang benar dan yang salah, serta untuk mencapai kebahagiaan sejati. Pandangan ini menunjukkan bahwa berfilsafat tidak bertentangan dengan nilai keagamaan, melainkan justru memperkuat pemahaman manusia terhadap kehidupan dan tujuan hidupnya.

Selain Al-Farabi, Ibnu Sina memandang filsafat sebagai sarana untuk memahami hakikat wujud, termasuk Tuhan, manusia, dan alam. Ia percaya bahwa melalui pemikiran yang mendalam, manusia dapat mencapai pengetahuan yang lebih tinggi. Pemikiran Ibnu Sina membuktikan bahwa tradisi filsafat juga berkembang kuat dalam peradaban Islam, bukan hanya di Barat.

Dari berbagai pandangan tokoh filsafat tersebut, dapat disimpulkan bahwa filsafat tidak muncul secara tiba-tiba pada tahap dewasa, melainkan tumbuh bersama perkembangan manusia. Sejak kecil, manusia telah memiliki dorongan alami untuk bertanya, berpikir, dan mencari makna. Dorongan inilah yang menjadi dasar aktivitas berfilsafat.

Dengan demikian, filsafat seharusnya tidak dipandang sebagai ilmu yang menakutkan atau jauh dari kehidupan sehari-hari. Filsafat justru dekat dengan pengalaman manusia sejak dini. Melalui pengenalan filsafat secara sederhana, siswa dapat diajak untuk mencintai proses berpikir, menghargai perbedaan pendapat, dan mencari kebenaran dengan cara yang bijaksana.

Sebagai penutup, dapat ditegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan filosofis sejak dini merupakan bukti bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang berfilsafat. Dengan membiasakan diri untuk berpikir dan bertanya secara kritis, manusia tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Posting Komentar

0 Komentar