Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Berdasarkan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa aurat seorang wanita adalah seluruh tubuhnya. Sebagai pelengkap, dalam alam ayat lain Q.S.An-Nur ayat 31:
وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ
kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”
Berdasarkan penggalan ayat tersebut, terdapat pengecualian mengenai bagian tubuh perempuan yang boleh ditampakkan, yaitu yang biasa terlihat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bagian yang biasa terlihat adalah wajah dan telapak tangan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa batas aurat seorang perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Selain menutup aurat, pakaian perempuan hendaknya longgar dan tidak membentuk lekuk tubuh, tebal serta tidak transparan, tidak menyerupai pakaian laki-laki maupun pakaian orang kafir, bersih dan rapi, serta tidak berlebihan atau tabarruj dalam berpenampilan.
Pada umumnya, pengetahuan tentang berpakaian adalah hal paling mendasar yang pasti telah diinformasikan dan diatur sejak hari pertama santri menginjakkan kaki di pondok pesantren. Tidak dapat dihindari bahwa adab berpakaian telah menjadi ke khas-an untuk identitas diri seorang santri.
Ironisnya begitu santri keluar dari gerbang pesantren baik itu liburan pulang maupun telah lulus, sebagian menganggap bahwa artinya juga keluar dari aturan-aturan yang ditanamkan selama dalam pesantren. Tak jarang ditemukan bahwa nilai-nilai itu tidak lagi terpakai. Pakaiannya tidak lagi syar’i, auratnya tidak lagi tertutupi, bahkan riasannya mencolok seakan ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak kalah menarik dengan remaja-remaja diluaran sana.
Eksistensi di Media Sosial
Terlebih lagi, pengaruh digitalisasi membawa dampak yang begitu besar bagi eksistensi santri dalam bersosialisasi dan membawa diri di media sosial pribadinya. Kemudahan akses media sosial dalam membuat akun dan meng-upload berbagai foto dan video sesuka hati, yang kemudian menjadi faktor pendukung dari penyalahgunaan eksistensi santri di media sosial.
Naasnya, belakangan ini dalam media sosial sudah banyak sekali tercecer para santri yang mulai lalai dalam menggunakan media sosialnya. Santri-santri yang sedang berada dalam masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, sehingga masih merasa penasaran akan banyak hal yang terlihat menyenangkan dan mudah terbawa arus.
Hingga alih-alih menjadi berbeda dengan orang-oarang di dunia luar yang bebas, justru mereka tergiur ikut-ikutan mencoba berbagai trend viral di media sosial. Dari mulai meng-upload foto tidak menutup aurat, pakaian tidak syar’i, foto bersama pacar, mengetik kata-kata kotor dan kasar, berjoget-joget dance sampai velocity, seakan menjadi hal yang sudah biasa saja.
Akhlak dan Adab Bersosialisasi
Dalam persoalan yang lebih luas, nilai akhlak dan adab sosial yang telah dibentuk secara maksimal di pesantren seringkali hilang dan terlupakan ketika pulang. Di pesantren, tentu saja nilai akhlak dan adab sangat ditekankan. Karena keseharian santri selama 24 jam penuh hidup berdampingan dengan pengurus, teman-teman sesama santri, dan ustadz/ustadzah sehingga membiasakan mereka untuk memiliki akhlak dan adab yang baik dalam kehidupan sosialnya.
Namun fenomena yang sangat sering ditemui, santri yang sedang pulang kampung atau sudah menjadi alumni malah tidak suka bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya. Mereka lebih suka menghabiskan waktu bermain gadget dan bermedia sosial yang selama ini tidak dapat dijangkau saat berada dalam pesantren, daripada melakukan sosialisasi dan pengaplikasian ilmu secara nyata dalam masyarakat sekitarnya.
Kualitas Ibadah
Memasuki persoalan yang lebih serius, persoalan ibadah menjadi penentu dari tertanam tidaknya nilai pendidikan di pesantren dalam diri santri. Di pesantren setiap santri ditanamkan, dibimbing, dan diawasi nilai-nilai ibadahnya dengan sebaik-baiknya. Dari ibadah yang wajib sampai yang sunnah, semua diperhatikan. Shalat tepat waktu, gerakan dan bacaannya diperbaiki, puasa teratur, ibadah sunnah dijalankan, hingga membaca dan menghafal Al-Qur’an sudah menjadi teman sejati.
Tetapi mirisnya setelah menginjak dunia luar, tak sedikit yang mulai menyepelekan, perlahan menggampangkan, hingga akhirnya terbiasa melupakan setiap nilai ibadah yang telah ditanamkan dengan susah payah. Shalatnya mulai ditunda-tunda, ibadah sunnahnya tidak lagi terlaksana, hafalannya tidak lagi terjaga, bahkan Al-Qur’an saja sudah jarang dibuka dan dibaca.
Realita pahit dunia pesantren ini memberi refleksi yang menyakitkan bagi sebagian pendiri maupun pengurus pesantren yang ada, sekaligus menimbulkan pertanyaan besar yang harus segera ditemukan jawabannya tentang apa yang kurang dan apa yang salah dari pendidikan pesantren sehingga menyebabkan fenomena ini terus bermunculan di kalangan masyarakat luas.
Melalui kegelisahan yang dituangkan dalam tulisan ini, diharapkan mampu memberikan evaluasi dan segera ditemukan solusi kritis dari bagaimana nilai-nilai pesantren tidak hanya menjadi aturan dan simbol kesalehan di dalam gerbang pesantren, tetapi juga tertanam dan ikut terbawa pulang hingga ke ruang aktualisasi yang sebenarnya, yakni lingkungan keluarga dan masyarakat luas.
Kegelisahan ini bukan menjadi kesalahan lembaga pesantren semata, tapi juga menjadi koreksi kesadaran diri pribadi santri maupun alumni. Kondisi ini pada akhirnya menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi para pemangku kepentingan untuk menumbuhkan pemahaman diri santri bahwa nilai-nilai pesantren yang ditanamkan bukan semata simbol kepatuhan formal yang berhenti di balik pagar pesantren, namun mengandung makna mendalam yang seharusnya terinternalisasi dan selalu turut menyertai perjalanan hidup santri hingga masa-masa mendatang.

0 Komentar