NU dan Muhammadiyah Bergandengan Tangan Membangun Tubaba yang Unggul dan Berkemajuan

 


NU dan Muhammadiyah Bergandengan Tangan Membangun Tubaba yang Unggul dan Berkemajuan

Oleh: H. Susilo Aris Nugroho, S.IP., S.Th.I.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulang Bawang Barat

Satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan tonggak sejarah penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Selama seratus tahun, NU telah membuktikan diri sebagai pilar peradaban Islam Nusantara yang kokoh, moderat dalam sikap, kuat dalam tradisi, serta adaptif terhadap perubahan zaman.
Atas dasar itulah, saya selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulang Bawang Barat menyampaikan tahniah Satu Abad Nahdlatul Ulama. Seratus tahun pengabdian NU merupakan anugerah besar bagi umat Islam, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan secara universal.

Di tingkat lokal, masyarakat Tulang Bawang Barat patut bersyukur karena spirit besar NU tersebut tercermin nyata dalam kepemimpinan sahabat saya, KH. M. Nurhadi, S.Pd.I., Ketua PCNU Tulang Bawang Barat. Di bawah kepemimpinannya, NU Tubaba tampil sebagai kekuatan Islam yang menyejukkan, inklusif, dan terbuka terhadap kerja sama lintas elemen. Relasi yang terbangun antara NU dan Muhammadiyah di Tubaba bukanlah relasi simbolik, melainkan kemitraan strategis untuk menjawab tantangan keumatan dan pembangunan daerah.

Sejarah kerap menggambarkan NU dan Muhammadiyah sebagai dua entitas besar dengan karakter berbeda. NU dikenal dengan kekuatan tradisi dan basis kulturalnya, sementara Muhammadiyah identik dengan gerakan tajdid, pendidikan, serta modernisasi. Namun sejatinya, perbedaan tersebut bukanlah jurang pemisah, melainkan kekayaan khazanah Islam Indonesia yang saling melengkapi.

Di Tubaba, kami bersepakat untuk melampaui dikotomi tersebut. Tantangan umat hari ini semakin kompleks: kemiskinan struktural, ketimpangan akses pendidikan, degradasi moral generasi muda, hingga ancaman disintegrasi sosial akibat politisasi identitas. Semua itu tidak mungkin dihadapi secara parsial atau dengan berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, Muhammadiyah berkomitmen untuk terus berjalan beriringan dengan Nahdlatul Ulama dalam membangun peradaban yang bermartabat. Sinergi ini bukan soal siapa yang lebih besar atau lebih dominan, melainkan tentang bagaimana dua kekuatan besar umat Islam dapat saling menguatkan demi kemaslahatan bersama.
Tulang Bawang Barat adalah daerah dengan potensi besar sekaligus tantangan nyata. Pembangunan fisik semata tidak akan bermakna tanpa pembangunan manusia. Di sinilah peran organisasi kemasyarakatan Islam menjadi sangat strategis. NU dan Muhammadiyah memiliki jaringan luas, sumber daya manusia yang mumpuni, serta modal sosial yang mengakar hingga ke tingkat akar rumput.

Muhammadiyah dengan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial siap berkolaborasi dengan NU yang memiliki kekuatan kultural, pesantren, serta basis jamaah yang luas. Jika potensi ini disinergikan, Tubaba tidak hanya akan tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara sosial dan spiritual.

Kami meyakini bahwa Tubaba yang unggul dan berkemajuan hanya dapat terwujud jika pembangunan berjalan seiring dengan nilai-nilai keadaban. Pembangunan tanpa moral akan melahirkan kekosongan makna, sementara keadaban tanpa kemajuan akan tertinggal oleh zaman. NU dan Muhammadiyah hadir untuk menjaga keseimbangan tersebut.

Dalam konteks kebangsaan, sinergi NU dan Muhammadiyah juga menyampaikan pesan penting bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang ramah, inklusif, dan berorientasi pada persatuan. Di tengah menguatnya polarisasi sosial dan politik, nilai persaudaraan (ukhuwah) harus terus diteguhkan.

Dengan semangat persaudaraan, NU dan Muhammadiyah di Tulang Bawang Barat berkomitmen mewujudkan kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan semesta. Kami menolak segala bentuk ekstremisme, radikalisme, serta politisasi agama yang merusak sendi-sendi persatuan. Islam harus hadir sebagai sumber solusi, bukan sumber konflik.

Akhirnya, satu abad NU mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan umat terletak pada keikhlasan dalam melayani dan keteguhan dalam menjaga nilai. Muhammadiyah pun lahir dengan semangat yang sama: menebarkan Islam yang berkemajuan, mencerahkan, dan membebaskan.

Bergandengan tangan, NU dan Muhammadiyah akan terus menebarkan nilai-nilai keadaban yang luhur serta menghadirkan kemajuan yang penuh berkah dan rahmat bagi seluruh alam. Dari Tulang Bawang Barat, kami ingin menunjukkan bahwa persatuan umat bukanlah utopia, melainkan kerja nyata yang dimulai dari saling percaya dan saling menguatkan.

Satu abad NU bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian yang lebih luas. Muhammadiyah siap berjalan bersama hari ini, esok, dan seterusnya demi Tubaba yang unggul, berkemajuan, dan diridhai Allah SWT.
 

Editor : Joko Riyanto

Posting Komentar

0 Komentar