Musibah dalam Perspektif Al-qur'an: Makna Kontemporer QS. Al-Baqarah Ayat 155
Oleh: Sudarta Salman, SE, MM
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ogan Ilir — Sumatera Selatan
Realitas yang Menyapa Kita Sekarang
Ketika pena menyusun tulisan ini, kaca jendela di Sumatera Selatan pun tertutup kabut samar. Musim kemarau panjang memanjang, kebakaran lahan menyebar, dan asap tebal menyelimuti perkampungan serta perkotaan. Udara yang kita hirup sehari-hari kini tak lagi segar; batuk-batuk dan sesak napas menjadi keluhan biasa. Di saat yang sama, deretan gunung berapi di berbagai penjuru negeri menunjukkan tanda kegiatannya, memacu kewaspadaan ribuan warga di lereng-lerengnya. Belum cukup itu, kabar duka datang dari sejumlah daerah: ratusan bahkan ribuan siswa mengalami keracunan usai menerima pangan dari program strategis negara — anak-anak yang seharusnya tumbuh sehat justru jatuh sakit, tanpa pertanggungjawaban yang memadai.
Tiga peristiwa besar ini terjadi beriringan. Bukan sekadar kebetulan semata. Ia adalah rangkaian ujian yang nyata, kasat mata, dan menyentuh langsung kehidupan rakyat. Di tengah keterkejutan, kecemasan, dan kesedihan ini, Al-Qur'an hadir memberikan panduan batin sekaligus arah tindakan melalui firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:
_"Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sebagian ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan hasil bumi. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."_
Ayat ini bukan penghibur pasif. Ia mengajak kita membaca tanda-tanda zaman, memahami makna di balik peristiwa, lalu bangkit berikhtiar menata perbaikan bersama.
Tiga Peristiwa, Lima Bentuk Ujian
Ketiga peristiwa di atas ternyata selaras dengan lima ranah ujian yang disebutkan Al-Qur'an:
Pertama, ketakutan dan kegelisahan. Asap tebal membuat orang tua cemas akan kesehatan anak-anak; erupsi gunung memacu kecemasan warga harus mengungsi; keracunan pangan menimbulkan keraguan: apakah makanan yang disajikan aman dikonsumsi? Rasa takut ini wajar, namun jika dibiarkan tanpa penanganan tegas, akan menumbuhkan keputusasaan dan hilangnya kepercayaan kepada pengelola negara.
Kedua, ancaman terhadap pemenuhan pangan dan gizi. Musim kemarau panjang dan asap mengganggu pertumbuhan tanaman serta menurunkan hasil panen. Di sisi lain, program pangan yang justru ditujukan untuk memenuhi gizi anak-anak malah mendatangkan penyakit. Ini adalah peringatan keras: pangan bukan sekadar soal jumlah, melainkan soal keamanan, kualitas, dan pertanggungjawaban.
Ketiga, kekurangan harta dan penurunan kesejahteraan. Kebakaran lahan dan asap menurunkan hasil tani, mengganggu usaha perdagangan, serta menambah biaya pengobatan bagi warga yang sakit pernapasan. Erupsi gunung merusak hunian dan lahan mata pencaharian. Keracunan massal menambah beban biaya pengobatan yang sejatinya tidak seharusnya ditanggung rakyat. Semua ini menggerus harta bersama — tanda bahwa pengelolaan sumber daya dan perlindungan publik belum sepenuhnya berjalan sebagaimana mestinya.
Keempat, kehilangan jiwa dan kerusakan kesehatan. Setiap orang yang jatuh sakit, terutama anak-anak, adalah kerugian besar bagi bangsa. Nyawa dan kesehatan adalah titipan Allah yang paling suci. Apalagi jika kerusakan itu terjadi akibat kelalaian dalam pengelolaan kebijakan — maka tanggung jawab menjadi berlipat ganda.
Kelima, hasil usaha dan harapan yang terhambat. Hasil bumi yang menurun, rencana pembangunan yang terganggu, cita-cita generasi penerus yang terancam kesehatannya — semuanya ini adalah "buah" yang belum matang dipetik atau justru rusak sebelum diambil. Mengingat hal ini, kita dipanggil untuk tidak sekadar menerima keadaan, melainkan menata kembali cara kita mengelola bumi, mengelola pangan, dan mengelola kebijakan.
Solusi: Langkah-Langkah Mitigasi dan Pencegahan
Sabar dalam Al-Qur'an bukan berarti diam menerima musibah. Sabar berarti teguh berikhtiar sekaligus menyerahkan hasil kepada Allah. Maka, jawaban atas ujian ini bukan hanya sekadar doa — doa namun harus disertai langkah nyata:
Mitigasi Bencana Alam dan Lingkungan
Pencegahan Kebakaran Lahan: Larang pembukaan lahan dengan cara membakar; berikan pelatihan dan pendampingan kepada petani tentang pengelolaan lahan tanpa bakar; tegakkan hukum secara tegas tanpa pandang bulu terhadap pihak yang membakar lahan; serta perbaiki sistem peringatan dini dan respons cepat saat kebakaran terjadi.
Kesiapan Menghadapi Erupsi Gunung: Perbarui peta kawasan rawan bencana; latih warga di sekitar gunung mengenai rute evakuasi dan tempat aman; pastikan jalur evakuasi selalu terpelihara; serta siapkan tempat penampungan yang layak dengan kebutuhan dasar yang memadai — bukan sekadar saat bencana terjadi, melainkan sejak jauh hari.
Pengelolaan Kualitas Udara: Pantau dan umumkan indeks kualitas udara secara terbuka dan berkala; berikan pelindung pernapasan bagi warga yang membutuhkan; serta tanam kembali hutan dan lahan gunduk untuk memperbaiki keseimbangan alam jangka panjang.
Jaminan Keamanan Pangan dan Tanggung Jawab Kebijakan
Pengawasan Ketat Setiap Tahap: Setiap pangan yang disalurkan harus melalui pemeriksaan kualitas dan keamanan sebelum dibagikan melibatkan tenaga ahli, bukan sekadar petugas yang ditunjuk. Proses pengadaan, pengolahan, penyimpanan, hingga penyaluran harus transparan dan dapat diawasi.
Tanggung Jawab yang Nyata: Jika terjadi keracunan, segera tangani korban tanpa biaya bagi keluarga; cari penyebab secara menyeluruh dan terbuka; beri permohonan maaf yang tulus; serta proses pihak yang lalai sesuai ketentuan hukum. Jangan biarkan korban menanggung beban yang bukan kesalahannya.
Partisipasi Masyarakat: Libatkan warga, guru, orang tua, dan lembaga keagamaan dalam pengawasan pangan yang diterima anak-anak. Pengawasan tidak boleh menjadi urusan satu pihak saja.
Kesiapan Mental dan Kekuatan Bersama_
Pendidikan Ketangguhan: Tanamkan kepada masyarakat — terutama anak-anak — bahwa bencana adalah ujian, bukan akhir segalanya. Ajarkan cara bertindak saat bahaya datang, sekaligus ajarkan untuk tetap berbuat baik dan saling menolong dalam keadaan sulit.
Penguatan Ikatan Sosial: Musibah menyatukan yang terpisah. Bangun kelompok gotong royong yang siap saling membantu saat ada tetangga yang terkena musibah. Persatuan adalah benteng terkuat bangsa.
Muhasabah Bersama: Para pemimpin, dari tingkat paling bawah hingga tertinggi, hendaknya memeriksa kembali kebijakannya. Apakah sudah sesuai kepentingan rakyat? Apakah dikelola dengan jujur dan amanah? Ujian ini adalah panggilan untuk kembali ke jalan kebenaran dan keadilan.
Sabar yang Membangun Bangsa
Allah berfirman: "Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." Kabar gembira ini bukan berarti musibah akan hilang begitu saja. Ia berarti: siapa yang teguh, berikhtiar, dan memperbaiki diri saat diuji, akan diberi jalan keluar dan kemenangan di sisi-Nya.
Musim kemarau, asap, erupsi, maupun keracunan massal adalah peringatan sekaligus panggilan. Panggilan untuk lebih peduli pada bumi yang dipinjamkan Allah kepada kita. Panggilan untuk mengelola amanah pangan dengan ketelitian dan kejujuran. Panggilan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan rakyat sebagai titipan paling mulia.
Bagi para pemimpin: perbaiki cara bekerja. Jadikan keamanan dan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama, bukan sekadar pencitraan. Bagi masyarakat: tetap teguh, tetap berdoa, dan tetap berikhtiar. Jangan biarkan kesulitan memecah belah kita.
Jika kita menyatukan hati, tangan, dan langkah maka di balik asap yang tebal, akan muncul cahaya harapan. Di balik kegelisahan, akan lahir ketangguhan. Dan di balik setiap ujian, akan tumbuh bangsa yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih berbakti kepada Allah serta sesama.
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5)
Sudarta
Ketua PDM Ogan Ilir
Akademisi UM Palembang

0 Komentar