Seabad Pondok Gontor, Tak Terasa Air Mata Pun Mengalir

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed.
Alumni Pondok Gontor | Guru Besar Universitas Muhammadiyah Metro

PONOROGO — Ada momen ketika usia seratus tahun tidak lagi terasa sebagai angka. Ia hadir sebagai kumpulan kenangan, doa, perjuangan, dan perjalanan panjang yang tiba-tiba kembali hidup dalam ingatan.

Suasana itulah yang terasa di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19 September 2026. Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh haru. Ribuan alumni dari berbagai generasi hadir dalam satu ruang, dipertemukan kembali oleh pengalaman yang sama: pernah menjadi bagian dari kehidupan pondok.

Puncak peringatan satu abad itu menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Pondok Gontor. Bukan hanya sebagai lembaga pendidikan yang telah melewati usia satu abad, tetapi sebagai institusi yang nilai dan tradisinya terus dibawa oleh para alumninya ke berbagai ruang pengabdian.

Kehadiran Kepala Negara, pejabat negara, duta besar negara sahabat, serta alumni lintas generasi menambah makna pada perhelatan tersebut. Setelah seratus tahun, jejaring Gontor telah berkembang jauh melampaui lingkungan pesantren. Nilai pendidikan yang ditanamkan di pondok menemukan bentuknya melalui kiprah para alumni di tengah masyarakat.

Namun, dari seluruh rangkaian acara, ada satu momen yang bagi saya dan mungkin banyak alumni lainnya terasa begitu personal.

Saat Hymne “Oh Pondokku” mulai dikumandangkan, suasana berubah.
Suara ribuan alumni yang sebelumnya memenuhi arena perlahan menyatu dalam lantunan lagu yang sangat akrab bagi setiap santri. Bait demi bait membawa ingatan kembali kepada masa-masa ketika kehidupan di pondok dimulai.

Tiba-tiba saja terbayang kembali hari-hari menjadi santri. Bangun pagi, belajar, menjalani disiplin, beraktivitas bersama teman-teman, menerima nasihat para guru, hingga merasakan suka dan duka hidup dalam kesederhanaan.

Dan tanpa terasa, air mata pun mengalir.
Ada alumni yang menundukkan kepala. Ada yang saling berpelukan. Ada pula yang hanya terdiam menikmati setiap bait lagu yang membawa mereka kembali kepada masa lalu.

Barangkali air mata itu bukan sekadar rasa haru. Di dalamnya bercampur kerinduan kepada pondok, kepada para guru, kepada sahabat seperjuangan, sekaligus rasa syukur karena pernah mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari proses pendidikan tersebut.

Lagu “Oh Pondokku” seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan hari ini. Ketika bait-baitnya mengalun, usia tidak lagi menjadi jarak. Alumni yang telah puluhan tahun meninggalkan pondok kembali merasakan suasana ketika mereka masih menjadi santri.

“Oh pondokku... tempat naung kita”
“Dari kecil sehingga dewasa”
“Rasa batin damai dan sentosa”
“Dilindungi Allah Ta’ala”

Bait-bait itu sederhana. Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar lirik sebuah hymne.

Di situlah barangkali letak kekuatan sebuah lembaga pendidikan. Nilai yang ditanamkan tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan gerbang pondok. Ia ikut berjalan bersama mereka, memasuki ruang kehidupan yang lebih luas.
Seratus tahun Gontor juga bukan sekadar cerita tentang masa lalu.

Satu abad adalah perjalanan panjang sebuah sistem pendidikan dalam mempertahankan nilai sekaligus merespons perubahan zaman. Gontor tidak sekadar merawat tradisi, tetapi terus berupaya mengembangkan pendidikan, membangun kemandirian, dan mempersiapkan santri menghadapi kehidupan yang terus berubah.

Nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, disiplin, dan pengabdian menjadi bagian dari warisan yang kemudian dibawa para alumni ke berbagai bidang.

Karena itu, ketika satu abad dirayakan, yang sesungguhnya dirayakan bukan hanya bertambahnya usia lembaga. Ada perjalanan manusia di dalamnya. Ada guru yang mendidik, santri yang belajar, orang tua yang menitipkan harapan, dan alumni yang kemudian melanjutkan pengabdian di tengah masyarakat.

Memasuki abad kedua, tantangan tentu berbeda.
Perubahan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika sosial, serta tantangan peradaban global membutuhkan kemampuan untuk terus beradaptasi. Nilai-nilai keislaman tetap menjadi fondasi, tetapi cara menghadirkannya perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan zaman.

Di sinilah pentingnya menjadikan warisan satu abad sebagai modal untuk melangkah, bukan sekadar kenangan untuk dikenang.

Pondok Gontor bersama para alumninya memiliki perjalanan panjang yang masih terus berlangsung. Penguatan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan yang semakin kompleks.

Dan pada akhirnya, ketika Hymne “Oh Pondokku” kembali selesai dilantunkan, mungkin yang tersisa bukan hanya suara yang perlahan menghilang.

Ada kenangan yang kembali pulang.
Ada rasa syukur yang semakin dalam.
Dan ada kesadaran bahwa seratus tahun hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang sebuah cita-cita pendidikan dan pengabdian.

Tak terasa, air mata mengalir. Bukan karena kesedihan, melainkan karena kita kembali diingatkan dari mana kita pernah belajar, tumbuh, dan menemukan makna tentang kehidupan.
Editor: Guswir

Posting Komentar

0 Komentar