METRO — Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) memperluas edukasi mengenai peluang pendidikan dan pekerjaan di Jerman melalui kolaborasi bersama Muhammadiyah Deutschland e.V., Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), dan BP3MI Lampung.
Kegiatan tersebut diikuti jajaran UM Metro, di antaranya Wakil Rektor III Dr. Ir. Eva Rolia, S.T., M.T., M.KM., Direktur Vokasi Sri Retnaning Rahayu, S.E., M.M., Dekan FKIP Dr. Arif Rahman Aththibby, M.Pd., Dekan FAI Muhammad Nur, M.Kom.I., serta panitia pelaksana.
Kolaborasi itu diwujudkan melalui kegiatan Migration Pathways Tutorial WP 1 MAGMA bertajuk “Membangun Kesiapan Migrasi: Mengenal Jalur Kerja, Pendidikan, dan Peluang ke Jerman”. Kegiatan berlangsung secara luring dan daring di UM Metro, Sabtu, 26 September 2026.
Forum tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk memperoleh pemahaman mengenai peluang melanjutkan pendidikan maupun bekerja di Jerman. Materi yang dibahas mencakup kompetensi, kemampuan bahasa, jalur pendidikan dan pekerjaan, hingga prosedur migrasi yang aman serta sesuai ketentuan.
Project Manager MAGMA sekaligus perwakilan Muhammadiyah Deutschland e.V., Dr.rer.nat. Pelita Octorina, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan merupakan bagian dari implementasi kerja sama antara Muhammadiyah Deutschland dan UM Metro.
Menurut Pelita, kolaborasi tersebut tidak hanya berorientasi pada hubungan antarlembaga, tetapi juga diarahkan untuk memperluas manfaat bagi masyarakat melalui jaringan Persyarikatan Muhammadiyah.
“Melalui MAGMA kami ingin menghadirkan pengabdian melalui sosialisasi jalan migrasi kerja yang aman, adil, dan bermartabat bagi WNI yang hendak merantau ke Eropa, khususnya ke Jerman,” ujarnya.
Ia menerangkan, MAGMA merupakan program yang lahir dari inisiatif diaspora Muhammadiyah di Jerman. Program tersebut memperoleh dukungan Pemerintah Federasi Jerman melalui Kementerian Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) serta dilaksanakan bersama GIZ.
Sementara itu, Pimpinan Project Centres for Migration and Development GIZ Indonesia & ASEAN, Dipl. Ing. Makhdonal Anwar, MA., mengatakan GIZ bersama mitra di Indonesia terus mendorong penguatan kapasitas calon pekerja migran agar dapat memilih dan menempuh jalur migrasi sesuai prosedur.
Ia menyebut peluang bagi generasi muda Indonesia untuk menempuh pendidikan vokasi ataupun bekerja sebagai tenaga terampil di Jerman tersedia.
Salah satu faktor yang mendorong kebutuhan tenaga kerja tersebut adalah perubahan struktur demografi serta bertambahnya populasi lanjut usia di Jerman.
Meski demikian, peluang tersebut membutuhkan persiapan yang matang, terutama berkaitan dengan kompetensi dan kemampuan bahasa.
“Secara peraturan memang sangat dimungkinkan. Tantangan utamanya bukan hanya dari sisi kompetensi, tetapi juga bahasa,” kata Makhdonal.
Salah satu jalur yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut ialah Ausbildung, yakni jalur pendidikan vokasi yang memadukan pembelajaran dengan pengalaman kerja. Calon peserta perlu memiliki kesiapan keterampilan sekaligus kemampuan bahasa untuk mengikuti program tersebut.
Makhdonal juga mengingatkan pentingnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi sebelum memutuskan mengikuti tawaran pendidikan atau pekerjaan di luar negeri.
“Jangan mudah percaya terhadap informasi yang baru dikenalkan. Cek dan cross-check lagi melalui sumber informasi yang bisa dipercaya, lembaga pemerintah, GIZ, BP3MI, atau P4MI,” ujarnya.
Menurutnya, kehati-hatian dalam memperoleh informasi menjadi bagian penting untuk mencegah keberangkatan melalui jalur nonprosedural yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum maupun meningkatkan kerentanan pekerja migran.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UM Metro Prof. Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed., yang membuka kegiatan, menyampaikan bahwa informasi mengenai kesempatan pendidikan dan pekerjaan di Jerman dapat memperluas wawasan mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan.
Ia menekankan bahwa kesempatan untuk berkiprah secara internasional perlu ditopang penguasaan ilmu, keterampilan, serta jaringan kerja sama.
“Paling tidak kita punya ilmu dan kita punya keterampilan di manapun kita berada. Yang ketiga, kita harus punya link, jaringan kerja sama,” tuturnya.
Ihsan berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut pada pendampingan yang lebih konkret, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai peluang pendidikan dan pekerjaan di Jerman.
“Kami berharap kegiatan-kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kita semua dan ada implementasinya. Kalau bisa dibuat anggaran untuk pendampingan bagi masyarakat, mahasiswa, ataupun bagi yang ingin bekerja,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi UM Metro dengan Muhammadiyah Deutschland, GIZ, dan BP3MI dapat menjadi pijakan untuk memperkuat akses masyarakat terhadap informasi yang terpercaya mengenai berbagai peluang di Jerman.
“Atas nama Universitas Muhammadiyah Metro, kami mengapresiasi kegiatan ini. Semoga menjadi modal bersama dan informasi bersama untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas di Jerman, baik itu belajar, bekerja, ataupun kegiatan lainnya,” pungkasnya.
Kegiatan ditutup dengan pembahasan mengenai jalur pendidikan dan pekerjaan di Jerman, persyaratan migrasi, persiapan kompetensi, serta berbagai peluang dan tantangan yang perlu dipahami mahasiswa maupun calon pekerja migran Indonesia.
0 Komentar