KUTOARJO — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kayuputih di bawah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rawamangun, Jakarta, berkunjung ke PCM Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Ahad–Senin, 4–5 Oktober 2026.
Kunjungan tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai pengembangan dakwah, pengelolaan organisasi, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Dalam kunjungan itu, rombongan melihat sejumlah AUM di lingkungan PCM Kutoarjo, antara lain SD Muhammadiyah Kutoarjo, RS PKU Muhammadiyah Kutoarjo, Masjid Darussalam, dan Gedung Dakwah Muhammadiyah Kutoarjo.
Kegiatan tersebut juga melibatkan PCA Kutoarjo, Keluarga Sekawan Kutoarjo, serta sejumlah unsur AUM setempat.
Ketua PCM Kutoarjo, H. Moh. Mansur, S.Pd.I., mengatakan pertemuan tersebut berawal dari hubungan personal salah satu pengurus PRM Kayuputih–PCM Rawamangun yang memiliki kedekatan dengan Kutoarjo.
“Program ini tidak sengaja kami programkan, tetapi karena ada silaturahmi di salah satu pengurus PRM Kayu Putih Rawamangun Jakarta Timur yang kebetulan rumahnya di Kutoarjo,” kata Mansur.
Menurut dia, pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman mengenai perjalanan Persyarikatan dan pengelolaan AUM di masing-masing wilayah.
Wakil Ketua PRM Kayuputih sekaligus Wakil Ketua PCM Rawamangun, Zasirullah Salim, mengatakan kunjungan ke Kutoarjo memberikan gambaran mengenai proses panjang pengembangan Muhammadiyah dari tingkat akar rumput.
“Kami melihat hampir sama terlihatnya Muhammadiyah di mana pun. Akar rumput itu berjuang secara gigih untuk mencapai tujuan bersama,” ujarnya.
Zasirullah menilai pengalaman Muhammadiyah Kutoarjo dapat menjadi pembelajaran bagi PRM Kayuputih dan PCM Rawamangun, terutama dalam mengembangkan pelayanan masyarakat melalui sektor pendidikan dan kesehatan.
“Hal yang paling menonjol menurut saya ialah bagaimana perjuangannya itu berawal dari yang sangat sederhana sehingga melahirkan sebuah karya kemanusiaan di bidang layanan masyarakat, baik sekolah ataupun rumah sakit,” katanya.
Selain perkembangan AUM, pembahasan juga menyentuh pentingnya wakaf dan kepercayaan masyarakat sebagai bagian dari keberlanjutan gerakan.
Dalam konteks itu, Zasirullah menyebut almarhum H.Suryadi sebagai salah satu tokoh yang meninggalkan kontribusi bagi pengembangan Muhammadiyah.
Pertemuan tersebut juga menyoroti pengajian sebagai salah satu indikator kehidupan ranting dan cabang Muhammadiyah.
Kegiatan pengajian dinilai tidak hanya menjadi sarana dakwah, tetapi juga ruang pembinaan jamaah, kaderisasi, serta penguatan hubungan dengan masyarakat.
PRM Kayuputih memiliki pengalaman dalam pengembangan ranting. Ranting tersebut pernah meraih Juara II Ranting Muhammadiyah Award 2018 dan Juara I pada 2019.
Zasirullah mengatakan pengalaman tersebut dibangun melalui sejumlah strategi, antara lain menjaga hubungan dengan tokoh masyarakat, mempertahankan kepercayaan dalam pengelolaan amanah dan wakaf, serta memperkuat sinergi dengan 'Aisyiyah dan Angkatan Muda Muhammadiyah.
Kolaborasi dengan unsur Persyarikatan dan AUM juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
“Kerja sama dan kolaborasi adalah sebuah jalan yang niscaya bagi kemajuan sebuah gerakan. Dengan bekerja sama, jalan kita semakin sempurna,” katanya.
Selain penguatan kelembagaan, PRM Kayuputih mendorong pembinaan guru, ustaz dan ustazah, serta imam masjid. Ke depan, mereka juga berencana mengembangkan pelatihan manajemen dakwah digital untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan Persyarikatan.
Dalam kesempatan yang sama, PCM Rawamangun memaparkan perkembangan organisasi dan AUM yang dikelolanya. PCM Rawamangun disebut memiliki sembilan ranting dengan sejumlah lembaga pendidikan dan unit pendukung organisasi.
Untuk mendukung pengelolaan organisasi, PCM Rawamangun menerapkan sentralisasi keuangan dan digitalisasi administrasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan pengawasan.
Mansur mengatakan pertukaran pengalaman tersebut memberikan perspektif tambahan bagi Muhammadiyah Kutoarjo dalam mengembangkan organisasi dan AUM.
“Muhammadiyah adalah suatu gerakan untuk fastabiqul khairat. Perlu perjuangan yang tangguh, perlu keikhlasan untuk membersamai amal usaha di masing-masing,” ujarnya.
Dalam diskusi, PDM Purworejo turut menekankan empat karakter yang perlu dimiliki pimpinan Muhammadiyah, yakni integritas, kapasitas, kemampuan berkolaborasi, dan keikhlasan. Keempat aspek tersebut dinilai penting dalam menjaga kepercayaan sekaligus mengembangkan Persyarikatan secara berkelanjutan.
Zasirullah berharap pertemuan antara Muhammadiyah Kayuputih–Rawamangun dan Kutoarjo dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama yang lebih konkret.
“Semoga silaturahim kerja sama antar-ranting dan cabang Muhammadiyah Rawamangun akan berlanjut lagi dengan Muhammadiyah Kutoarjo, PDM-nya dan PCM-nya,” katanya.
Pertemuan tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi di bidang dakwah, pendidikan, sosial, kepemudaan, pembinaan masjid, pengembangan sumber daya manusia, serta pengelolaan AUM.
0 Komentar