Oleh: Joko Riyanto
Aqidah dan Filsafat Islam
Sebuah ungkapan kegelisahan kerap muncul secara terus-menerus dalam pikiran manusia yang berani meragukan segala sesuatu. Dari kegelisahan inilah René Descartes membangun fondasi pemikirannya yang terkenal: Cogito Ergo Sum : aku berpikir, maka aku ada. Pernyataan ini tentu tidak lahir dari proses yang sederhana. Ia tidak sesederhana ungkapan populer hari ini: “aku selfie, maka aku ada”.
Pertanyaannya kemudian, keberadaan seperti apa yang dibangun oleh manusia-manusia selfie? Bagaimana ruang dan waktu membingkai eksistensi semacam itu? Dan yang paling mendasar, manfaat apa yang dihadirkan oleh keberadaan tersebut, baik bagi diri sendiri maupun bagi kehidupan sosial secara lebih luas?
Hal yang perlu digarisbawahi, keraguan Descartes terhadap keberadaan bukanlah penolakan atas realitas semata, melainkan kesadaran bahwa segala sesuatu senantiasa berubah, termasuk tubuh dan pengalaman dirinya sendiri. Dalam pusaran perubahan itulah Descartes menemukan satu kepastian filosofis: ia sadar bahwa ia sedang berpikir. Kesadaran akan aktivitas berpikir itulah yang menegaskan keberadaannya. Dengan demikian, berpikir menjadi penanda utama eksistensi manusia.
Pada titik ini, pembedaan antara manusia dan hewan menjadi relevan. Manusia adalah Homo Humanus, makhluk yang memiliki kesadaran reflektif, sedangkan hewan adalah Homo Animalis, makhluk yang hidup terutama berdasarkan naluri. Pembedaan ini dapat ditemukan dalam diskursus filsafat dan pemikiran kebudayaan Barat.
Memasuki perkembangan peradaban mutakhir, manusia kini hidup dalam era milenium ketiga, sebuah zaman di mana teknologi dan informasi tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan pengetahuan. Secara epistemologis, bangunan pengetahuan konvensional—yang bertumpu pada indra dan rasio—mengalami tantangan serius. Proses ini menuntut dekonstruksi struktural, yakni pembongkaran ulang cara manusia memahami dan memproduksi pengetahuan.
Hadirnya teknologi digital dan dunia cyberspace (dunia maya) memaksa manusia untuk merekonstruksi ulang cara berpikirnya. Meski demikian, epistemologi konvensional tidak sepenuhnya kehilangan relevansi. Pengalaman langsung seperti rasa sakit, empati, relasi kuasa, dan penderitaan sosial tetap menjadi sumber pengetahuan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh ruang virtual.
Dalam konteks inilah pemikiran Yasraf Amir Piliang menjadi penting. Terpengaruh oleh pemikir seperti Umberto Eco, Jean Baudrillard, Guattari, dan Julia Kristeva, Yasraf secara kritis membongkar peran media sebagai alat konstruksi pengetahuan sekaligus moral masyarakat. Media tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi membentuk cara manusia memaknai realitas.
Fenomena konsumerisme dan hedonisme merupakan bukti konkret dari konstruksi tersebut. Keduanya berpijak pada pandangan materialistik dan sekuleristik, yakni cara memaknai hidup yang menempatkan materi, simbol, dan kesenangan sebagai pusat orientasi. Dalam dunia cyberspace, manusia mengonsumsi simbol-simbol tanpa henti, hingga realitas kerap tereduksi menjadi citra dan simulasi.
Di sinilah pernyataan “aku berpikir, maka aku ada” mengalami pergeseran menjadi “aku selfie, maka aku ada”. Eksistensi manusia tidak lagi ditentukan oleh kedalaman refleksi, melainkan oleh visibilitas di ruang digital. Masalahnya kemudian, bagaimana eksistensi semacam ini dapat menghadirkan makna hidup yang sejati?
Pertanyaan tersebut membawa penulis pada refleksi personal. Dalam perjalanan intelektual, pernah ada fase kegalauan eksistensial yang panjang, hingga bermuara pada eksistensialisme ateistik Jean-Paul Sartre, sebuah pandangan yang secara filosofis tidak menyediakan ruang bagi nilai-nilai ketuhanan. Fase ini, meski ironis jika dilihat ke belakang, menjadi bagian dari proses pencarian makna.
Kini, pencarian tersebut bergerak menuju eksistensialisme estetis sebagaimana dirumuskan Yasraf Amir Piliang. Dalam kerangka ini, eksistensi manusia dipahami melalui proses ganda-sirkuler: eksternalisasi dan internalisasi. Eksternalisasi adalah proses penciptaan dunia objektif—karya, produk, teknologi—sementara internalisasi adalah proses menyerap, merefleksikan, dan menghayati nilai-nilai dari ciptaan tersebut. Konsep ini menunjukkan pengaruh pemikiran Hegel tentang dialektika kesadaran.
Melalui proses inilah manusia dibedakan dari hewan. Manusia tidak sekadar hidup, tetapi merefleksikan kehidupannya. Dari proses ganda-sirkuler tersebut, Yasraf merumuskan empat fondasi eksistensi manusia.
Pertama, seni, sebagai ekspresi kejujuran terdalam manusia dalam mengungkapkan kebenaran tanpa manipulasi simulatif dan tanpa tunduk sepenuhnya pada logika pasar. Seni seharusnya memuat kedalaman filosofis dan makna, bukan sekadar komoditas.
Kedua, sains, yakni aktivitas sistematis untuk memperoleh pengetahuan objektif dan kebenaran ilmiah sebagai landasan pengembangan peradaban. Ketiga, politik, sebagai kapasitas manusia untuk membangun kehidupan yang baik melalui aktivitas kolektif, pertarungan ide, dan manifestasi nilai-nilai keutamaan dalam ruang publik.
Keempat, cinta, kapasitas paling sublim dalam diri manusia. Bagi Yasraf, cinta adalah perjumpaan sepasang subjek yang membangun dunia bermakna melalui relasi timbal balik, kebaikan bersama, dan pengorbanan. Cinta di sini bukan sekadar dorongan nafsu yang temporal, melainkan pengalaman terdalam yang membuka kebenaran sejati tentang kehidupan.
Berdasarkan uraian tersebut, proses ganda-sirkuler dapat dirumuskan ulang dengan menempatkan internalisasi sebagai titik awal. Manusia terlebih dahulu merenungkan siapa dirinya, bagaimana ia hidup, dan kontribusi apa yang dapat ia berikan. Setelah itu barulah eksternalisasi dilakukan, lalu diakhiri dengan internalisasi kembali sebagai proses pendalaman makna. Di antara tahap-tahap tersebut terdapat fase transisi, yakni pertimbangan etis dan reflektif atas pengalaman yang dijalani.
Inilah manusia yang beradab dan berbudaya: Homo Humanus, bukan Homo Animalis yang hidup sekadar untuk bertahan. Eksistensi manusia sejati tidak diukur dari seberapa sering ia tampil di layar, melainkan dari sejauh mana ia mampu menghadirkan makna, kebaikan, dan kesadaran dalam kehidupan bersama.

0 Komentar