Filosofi Cangkir: Tentang Makna, Pengetahuan, dan Nilai Manusia

 


Filosofi Cangkir: Tentang Makna, Pengetahuan, dan Nilai Manusia

“Seindah apa pun cangkir yang kau ukir,
dapatkah ia bermakna jika tak berisi?
Dan berhati-hatilah, sebab suatu hari
kita bisa terlempar oleh realitas yang kita kira kokoh.”
— Joko Riyanto

Malam itu hujan baru saja reda. Jalanan masih basah dan memantulkan cahaya lampu kota yang kekuningan. Kami berkumpul di rumah Sopi, rumah kecil di ujung gang, sederhana, tapi selalu terasa hangat. Entah karena kopinya, atau karena Sopi selalu tahu bagaimana membuat orang betah berlama-lama.

Di ruang tamu yang tak begitu luas, aroma kopi mulai memenuhi udara. Sopi keluar dari dapur sambil membawa nampan besar berisi beberapa cangkir. Sekilas, kami langsung menyadari ada yang janggal. Cangkir-cangkir itu tidak seragam.

Sebagian terlihat indah berkilau, berwarna lembut, dengan ukiran halus di pinggirnya. Namun sebagian lainnya tampak kusam, retak di sana-sini, bahkan ada yang bibir cangkirnya sedikit sumbing.
“Silakan,” kata Sopi sambil meletakkan nampan di meja. “Pilih cangkir sesuai selera kalian.”

Tanpa berpikir panjang, tangan-tangan kami bergerak cepat. Cangkir-cangkir indah langsung berpindah tangan. Tawa kecil terdengar, diselingi candaan ringan. Hingga akhirnya tersisa beberapa cangkir retak di atas nampan.

Tiga orang temanku saling berpandangan. Salah satunya mendecak pelan.
“Serius, Sop?” katanya sambil mengangkat cangkir kusam itu. “Masa minum kopi pakai cangkir begini?”

Yang lain ikut menimpali, “Ini cangkir apa kenangan pahit?”
Kami tertawa. Kecuali Sopi.

Ia hanya tersenyum tipis, lalu menuangkan kopi ke setiap cangkir tanpa membeda-bedakan. Kopi hitam itu menguap pelan, aromanya sama kuatnya, baik dari cangkir indah maupun cangkir retak.

“Tenang,” ucapnya akhirnya. “Malam ini kita tidak sekadar minum kopi.”

Aku menyesap kopiku, lalu menatap cangkir di tanganku yang kebetulan termasuk yang indah. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul.

“Pelajaran apa maksudmu?” tanyaku. “Apa hubungannya cangkir jelek ini dengan pelajaran hidup?”

Sopi duduk, menyandarkan punggungnya ke kursi. Wajahnya tampak serius, jauh berbeda dari biasanya.

“Ada tiga pelajaran,” katanya pelan. “Tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi.”

Ruangan mendadak sunyi. Hanya suara jam dinding dan rintik air yang menetes dari atap.

“Pertama,” lanjut Sopi, “nilai ontologis.”

Ia mengambil salah satu cangkir retak dan mengangkatnya.
“Cangkir ini ada. Ia hadir dalam ruang dan waktu. Keberadaannya nyata, meskipun tidak indah. Kita bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang, dan setiap sudut pandang itu sah.”

Kami memperhatikannya tanpa menyela.

“Begitu pula manusia,” katanya. “Kita ada. Terlepas dari rupa, latar belakang, atau penilaian orang lain. Bentuk dan warna hanyalah aksidensi bukan hakikat.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum getir.

“Cangkir ini mungkin retak, tapi rasa kopi di dalamnya tidak berubah.”

Aku menunduk. Entah kenapa, kata-kata itu terasa menampar.
“Kedua,” Sopi melanjutkan, “nilai epistemologis.”

Kini ia mengangkat cangkir indah.
“Cangkir adalah wadah. Kosong, ia tak berarti. Baru bermakna ketika diisi.”

Ia menatap kami satu per satu.
“Manusia juga begitu. Kita punya akal dan intuisi, tapi tanpa pengetahuan, keduanya hanyalah ruang kosong. Kita sering bangga pada ‘wadah’, tapi lupa mengisinya.”

Aku teringat berapa kali aku lebih sibuk terlihat pintar daripada benar-benar belajar.
Saat suasana semakin hening, Arif yang sejak tadi diam tiba-tiba angkat bicara.

“Dan yang ketiga,” katanya pelan, “adalah nilai aksiologis.”
Kami menoleh padanya.

“Pengetahuan,” lanjut Arif, “tidak berhenti di kepala. Ia baru bernilai ketika diamalkan. Sama seperti kopi tak ada gunanya jika hanya dipandang, dicium aromanya, tapi tak pernah diminum.”
Sopi tersenyum, kali ini lebih tulus.

“Itulah inti malam ini.”
Ia lalu bertanya, dengan suara yang lebih dalam,
“Sekarang aku ingin bertanya: jika kalian diberi pilihan lagi, apakah kalian tetap memilih cangkir indah dan meninggalkan yang retak?”
Kami saling pandang. Sunyi.

Akhirnya seseorang menjawab jujur,
“Kalau masih ada yang bagus… tentu kami pilih yang bagus.”
Sopi terdiam. Lama.

Wajahnya tidak marah, tapi jelas kecewa.
“Tak apa,” katanya akhirnya. “Kejujuran juga bagian dari pelajaran.”
Malam itu kopi tetap kami habiskan. Tak ada yang berubah pada rasa kopi. Namun sesuatu telah bergeser di dalam diri kami.

Saat pulang, aku sengaja menoleh ke meja. Cangkir-cangkir itu masih di sana indah dan retak, berdampingan, sama-sama kosong.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri:
apakah aku selama ini hanya sibuk memperindah cangkir, atau sungguh-sungguh menjaga isi di dalamnya?

Posting Komentar

0 Komentar