Membaca Kritik dengan Ilmu, Bukan Prasangka
Faqih Al Asady Sofyan
Guru SD Negeri 2 Toto Harjo
Tadi malam, di layar televisi, saya melihat satu hal yang sering terjadi di negeri ini. sebuah kritik diperdebatkan, bukan untuk dipahami, tapi untuk dipatahkan. Yang menarik bukan cuma siapa yang benar atau salah, tapi bagaimana satu pernyataan bisa dibaca dengan makna yang sangat berbeda.
Di titik inilah kita diuji, apakah kita sedang menjaga agama, atau justru sedang gagal membedakan antara iman, simbol, dan kepentingan politik? Konten ini bukan untuk membela siapa pun, tapi untuk mengajak berpikir.
Kapan kritik berubah jadi penghinaan, dan kapan kita berhenti mau memahami?
Dalam hal ini di tengah perdebatan itu, saya justru tertarik dengan yang disampaikan Feri Amsari Dosen Hukum Tata Negara Universitas Andalas terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh PP. Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari menilai bahwa materi Mens Rea yang dibawakan Komika Pandji Pragiwaksono bagian dari pendidikan politik. Sebab materi tersebut berisi ajakan untuk menilai calon pemimpin lebih bijak.
“Orang-orang tidak boleh melihat pemimpin berdasarkan ibadah, dan itu sudah jadi tren. Jangan hanya itu saja kata Pandji dan itu clear kok,” ucap Feri dalam Rakyat Bersuara iNews TV, Selasa (27/1/2026).
Beliau pun menjelaskan bahwa materi tersebut berkaitan dengan ayat dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’un ayat 4-7 yang melarang umat manusia memamerkan ibadahnya.
“Jadi pendidikan politik yang dia tekankan dan ayat yang saya baca tadi berkaitan dengan orang-orang yang suka menampilkan dan kemudian dikutuk dia celaka dia, celaka, makanya dalam hal ini celaka orang yang menjadikan politik dan ibadah seolah-olah tak punya nilai untuk pengaruhi pemilih,” sambung dia.
Tidak bermaksud menggurui siapapun apalagi mengklaim paling benar. Saya mencoba menyampaikan apa yang tertulis dalam tafsir, sebagaimana berikut :
Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
(Markaz Ta‘zhīm al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, Profesor Fakultas Al-Qur’an Universitas Islam Madinah)
Ayat 4–7 Surah Al-Mā‘ūn menjelaskan bahwa menjaga pelaksanaan shalat sejatinya merupakan obat bagi berbagai penyakit moral yang telah disebutkan sebelumnya. Shalat berfungsi menahan seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Namun demikian, Allah memberikan ancaman kebinasaan dan siksa kepada orang-orang yang melaksanakan shalat tanpa memperhatikan waktu dan syarat-syaratnya, serta menjadikannya sekadar sarana untuk menampakkan amal dan ibadah di hadapan manusia. Sikap demikian merupakan salah satu ciri orang munafik.
Selain itu, Allah juga mengancam orang-orang yang enggan menunaikan zakat kepada mereka yang berhak menerimanya, serta mereka yang menolak memberikan bantuan atau pinjaman berupa barang yang sejatinya tidak merugikan dirinya.
Sumber: Tafsirweb – Surat Al-Mā‘ūn ayat 4–7
Menurut Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Shalat sejatinya adalah obat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Namun, Allah mengancam kebinasaan dan siksa bagi orang yang:
- Melaksanakan shalat tanpa menjaga waktu dan syaratnya
- Beribadah sekadar untuk pamer dan dilihat manusia
- Menjadikan shalat sebagai simbol, bukan penghayatan
QS. Al-Mā‘ūn [107]: 4–7
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٤ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ٦ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ٧
“Maka celakalah orang-orang yang melaksanakan shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya; mereka yang berbuat riya; dan mereka yang enggan memberikan bantuan berupa barang-barang yang berguna.”
Pada tiga ayat sebelumnya, Al-Qur’an telah menjelaskan karakter para pendusta agama melalui sikap-sikap tercela mereka terhadap sesama manusia. Sementara itu, ayat-ayat selanjutnya menguraikan bentuk keburukan yang berkaitan langsung dengan hubungan manusia kepada Allah Swt., khususnya dalam praktik ibadah.
Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Munīr, Wahbah az-Zuhaili mengutip riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan bahwa ayat keempat Surah Al-Mā‘ūn turun berkenaan dengan orang-orang munafik. Mereka melaksanakan shalat ketika dilihat oleh orang-orang mukmin, namun meninggalkannya saat berada sendirian. Selain itu, mereka juga enggan memberikan pertolongan secara sukarela kepada sesama. Riwayat ini turut disebutkan dalam Tafsir Jalalain.
Menurut Tafsir al-Munir (Wahbah az-Zuhaili) dan riwayat dari Ibnu Abbas
- Ayat ini turun terkait orang munafik
- Mereka shalat hanya ketika dilihat orang beriman,
- Namun ketika sendiri, shalat ditinggalkan
Dari keseluruhan diskusi yang terjadi semalam, kita bisa sama-sama melihat bahwa persoalannya bukan sekadar soal siapa yang benar atau salah. Yang diperdebatkan bukan hanya satu pernyataan, tapi cara kita membaca dan memaknainya. Di satu sisi, ada kekhawatiran tentang menjaga kesucian agama. Di sisi lain, ada upaya mengingatkan agar agama tidak berhenti pada simbol dan tampilan.
Tafsir yang disampaikan para ulama memberi satu benang merah yang tenang bahwa ibadah tidak diukur dari apa yang tampak, melainkan dari keikhlasan, penghayatan, dan dampaknya bagi sesama. Maka mungkin, perdebatan ini bukan tentang penistaan atau pembelaan, tetapi tentang bagaimana kita berdiskusi dengan ilmu, rendah hati, dan kesediaan untuk memahami. Sebab agama akan selalu terjaga oleh nilainya, sementara manusia diuji oleh cara ia menyikapinya.
Agama tidak pernah rapuh oleh kritik, yang sering goyah justru cara kita memahaminya.

0 Komentar